Take a fresh look at your lifestyle.

Menikmati Kopi di Tengah Belantara Hutan

Bagaimana rasanya menikmati kopi di tengah belantara hutan? Forest Kopi yang ada di Desa Kembanglangit, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang menawarkan sensasi tersendiri.

Tempat ini sedang ngehits dan diburu para pengunjung karena keunikannya. Good coffe + good weather : Good vibes. Hmmmm, tiga hal ini seperti mewakili nuansa positif bagi yang datang ke Forest Kopi.

Berjarak 30 kilometer dari pusat kota Batang, akses menuju Forest Kopi tidak terlalu sulit dijangkau. Tempatnya juga sangat trategis di pinggir jalan Batang menuju Dieng.

Di tempat ini pengunjung atau wisatawan bisa menikmati aneka jenis kopi, mulai dari kopi lokal Batang hingga kopi dari berbagai daerah di ketinggian sekitar 1.000 mdpl dengan nuansa alam yang sangat membius karena berada di tengah hutan.

Karena berada di ketinggian, maka hawa dingin begitu terasa. Belum lagi kalau kabut datang, akan memberikan pengalaman sensasional bagi pengunjung. Turunnya kabut menjadi salah satu yang ditunggu tunggu pengunjung sembari menikmati lezatnya aneka kopi dan makanan yang ada.

Terletak di jalur perlintasan ke arah objek wisata Dieng, Forest Kopi kini menjadi salah satu jujukan wisatawan yang datang ke Kabupaten Batang atau mau ke Dieng. Apalagi, Forest Kopi kini juga dilengkapi dengan objek wisata Kembang Langit Park. Dibuka sekitar tiga tahun lalu, Forest Kopi seperti tak pernah sepi pengunjung.

Tidak hanya masyarakat umum, banyak pejabat dan artis yang juga sudah datang ke Forest Kopi.

Pengelola Forest Kopi Nanang Fatkhurrohman mengatakan, Forest Kopi didirikan sejak 2019. Ini berangkat dari ” ide liar ” nya untuk membuat kedai kopi, tapi letaknya di tengah hutan.

” Saat itu saya berpikir bagaimana membuat kedai kopi yang unik. Selama ini kedai kopi sudah banyak dibuat di daerah perkotaan, di ruko, atau halaman rumah. Saya ingin membuat kedai kopi dengan konsep yang berbeda yaitu di tengah hutan,” katanya.

Ide Nanang ini memang di luar kotak. Tapi Nanang berupaya agar ide ini bisa terealisir. Dirinya kemudian berjalan jalan di daerah Blado dan sekitarnya dan menemukanlah tempat yang tepat yaitu di Desa Kembang Langit. Di situ dirinya kemudian bertemu dengan kades Kembang Langit, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan juga Perhutani. Dirinya kemudian ditunjukan tempat yang kini menjadi lokasi Forest Kopi untuk merealisasikan idenya tersebut.

” Begitu saya ditunjukan tempatnya, saya langsung jatuh cinta. Sebab pemandangannya sangat bagus. Ini akan sangat menjual sekali meski akes jalannya saat itu agak sulit. Di awal pembangunan Forest Kopi, banyak yang menyangsikan apakah iya membuat kedai kopi di tempat yang jauh dari perkotaan dan di tengah hutan lagi. Siapa yang mau membeli?,” tuturnya.

Namun Nanang tetap yakin dengan cita-citanya. Tidak ada keraguan sedikitpun akan idenya. Dia kemudian terus membangun dan mengembangkan Forest Kopi. Tidak butuh waktu terlalu lama, Forest Kopi kini dikenal banyak orang. Bahkan kalau weekend dibanjiri pengunjung. Tidak hanya pengunjung dari Batang saja, banyak mobil-mobil dari luar kota yang berderet memenuhi area parkir. Bagi yang ingin berkunjung kesini, pastikan untuk datang lebih awal jika ingin mendapatkan tempat duduk.

Hawa Dingin

Nanang menjelaskan, jika di awal pembangunan lahan yang dibutuhkan sekitar dua hektare, kini dengan perkembangan pesat yang ada, lahan Forest Kopi sudah mencapai 10 hektare ditambah dengan objek wisata Kembang Langit Park. Awalnya tempat parkir hanya bisa menampung 10 mobil, tapi sekarang sudah bisa menampung 80 – 90 mobil. Rata-rata, pengunjung di hari biasa antara 200 – 300 orang per hari. Namun di weekend, bisa mencapai 600 – 800 orang per hari.

” Forest Kopi itu pioner kedai kopi di tengah hutan di Jawa Tengah. Selain kopi, tentu saja kita menjual suasana alam. Bagaimana pengunjung bisa menikmati kopi atau makanan di ketinggian dengan panorama yang indah. Selain itu juga di tengah hawa yang dingin sekitar 16 – 20 derajat celcius, suasana hujan, sampai bisa menikmati kabut yang turun dari wilayah pegunungan,” tuturnya.

Salah satu yang ditunggu dan menarik bagi pengunjung, kata Nanang, adalah turunnya kabut di sekitar Forest Kopi. Ini menciptakan sensasi tersendiri karena pengunjung bisa secara langsung menikmati kabut yang turun dari gunung. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan atau di bawah pegunungan, kabut merupakan sesuatu yang jarang sekali dilihat. Karena itu, ketika kabut dari gunung turun dan bisa disaksikan di sekitar Forest Kopi, itu membuat mereka sangat senang.

” Namun untuk bisa menyaksikan kabut secara langsung juga tidak pasti sebab kadang pagi muncul, kadang tidak muncul sama sekali. Kadang muncul sebentar dan kadang bertahan lama. Jadi tidak pasti. Tapi ini ditunggu pengunjung,” tuturnya.

Panorama di sekitar Forest Kopi memang sangat Instagramable. Tak pelak, ini ikut mempercepat populernya Forest Kopi di dunia maya dan menarik rasa penasaran orang. Forest Kopi juga menghadirkan Forest Bridge atau jembatan gantung di tengah rimbunnya pohon damar yang ada di sekitarnya.

Dengan keunikannya ini, tak ayal, Forest Kopi mampu membius para pengunjungnya. Pantas saja jika pengunjung selalu over load lantaran betah berlama-lama menikmati panorama alam di tempat ini. Tidak hanya masyarakat umum, pejabat dan artis juga telah mengunjungi Forest Kopi.

Beberapa pejabat yang sudah ikut berkunjung kesitu misalnya Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi, mantan Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen Suhartono, Bupati Batang Wihaji dan lainnya. Sementara untuk artis ada aktor papan atas Tora Sudiro, Mandra, dan Ira Wibowo.

” Untuk menu minuman, kami sediakan aneka kopi yang kekinian. Untuk jenisnya, kami sediakan kopi jenis robusta dan juga arabica,” katanya.

Untuk yang Arabica, Forest Kopi mengambil kopi lokal dari Kecamatan Bawang. Ada juga kopi dari luar daerah seperti Gayo, dan Kintamani. Untuk yang Robusta, Forest Kopi menggunakan kopi dari Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Batang. Prinsipnya mereka menggunakan kopi lokal Batang. Kalau kopi dari luar daerah itu hanya sebagai pelengkap. Bagi pecinta teh, juga bisa menikmati nikmatnya teh lokal yang berasal langsung dari daerah Kembang Langit, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.

Nanang menjelaskan, ada berbagai upaya untuk bisa membuat Forest Kopi terus berkembang. Seperti intens untuk posting dengan gambar gambar menarik di media sosial. Selain itu juga menyediakan spot-spot selfi, pelayanan yang prima pada konsumen, menu yang beragam, sampai dengan mendirikan Kembang Langit Park di 2020 kemarin.

Tingginya minat pengunjung yang datang ke Forest Kopi membuat dirinya mencoba terus berinovasi. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas spot selfi untuk memikat pengunjung. Mereka juga membangun camping ground bagi pengunjung yang ingin bercamping. Selain itu, pengelola Forest Kopi membangun vila bagi yang ingin menginap di tengah hutan setelah Lebaran tahun ini.

Untuk villa ini, juga banyak peminatnya. Bahkan ada vila dengan fasilitas lengkap yang pengunjung harus menunggu (inden) cukup lama.

” Jika pesan sekarang, baru bisa masuk tiga bulan kemudian atau pada September mendatang. Ini saking tingginya peminat,” kata Nanang.

Nanang menambahkan,
saat ini sekitar Blado muncul berbagai coffe shop yang juga menjual suasana alam. Tercatat ada sekitar 11 coffe shop baru dengan pemilik atau investornya rata-rata dari Kabupaten Batang. Ke depan, Forest Kopi akan terus berinovasi.

” Kita akan lakukan pengembangan menu-menu untuk terus menarik pengunjung. Selain itu ada perbaikan spot-spot selfie untuk tempat wisatanya, pembangunan kolam renang dan juga wahana-wahana lain,” tutur Nanang. (po2_red )

BERITA LAINNYA