Take a fresh look at your lifestyle.

Pecingan Lebaran Pro dan Kontra

Oleh: Nurul Hidayat

ISTILAH pecingan di kalangan masyarakat Kabupaten Brebes, Tegal dan sekitarnya sungguh sangat populer, khususnya di saat lebaran atau hari raya Idul Fitri. Pecingan yaitu memberikan sejumlah uang sebagai tanda kasih seseorang kepada keluarga/saudara/kerabat, teman dekat atau orang lain yang dikenalnya karena hubungan tertentu dan atau yang lainnya. Pecingan ramai diberikan pada saat umat Islam khususnya merayakan hari raya Idul Fitri baik sebelum, saat hari H-nya tiba ataupun selang beberapa hari selagi mereka bisa saling bertemu.

Kebanyakan pemberi pecingan adalah orang yang lebih tua dari segi usianya kepada mereka yang di bawah (jauh) usianya. Seperti misal seorang nenek kepada para cucunya, om/tante/pakde/bude kepada keponakannya. Atau misal kita kepada anak-anak teman kita yang kebetulan ikut bertamu ke rumah pada saat lebaran tersebut. Ada juga yang memberikan pecingan ketika kita mendapat kiriman makanan dari tetangga atau saudara sebagai tradisi kirim-kiriman lebaran, di saat itu biasanya kita akan memberikan pecingan kepada anak yang disuruh mengirim oleh orang tuanya.

Adalah satu keniscayaan bahwa tradisi pecingan itu merupakan momen yang menyenangkan bagi anak-anak pada umumnya, meski pecingan tersebut juga kerap diberikan kepada anak-anak yang beranjak remaja. Ada kebahagiaan tersendiri baik bagi yang memberi maupun yang menerima pecingan, yang menambah hangat suasana lebaran. Pecingan sendiri sudah menjadi tradisi turun temurun di kalangan masyarakat.

PRO KONTRA
Beberapa tahun yang lalu tradisi pecingan sempat ada yang mempersoalkan, sehingga muncul pro kontra pendapat karena perbedaan cara pandangnya masing-masing. Sebagian kalangan masyarakat yang mempersoalkan atau kurang sependapat dengan tradisi pecingan menganggap kalau kegiatan tersebut merusak mental anak-anak, tidak mendidik, cenderung melatih anak berharap dari orang lain dan berbagai alasan lain. Bahkan sebagian kalangan sempat menyitir Hadits sahih Riwayat al-Bukhori:1339 yang mengatakan bahwa tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Makna atau pesan moral yang disampaikan dari hadits tersebut adalah bahwa tangan yang di atas atau yang memberi (mengeluarkan infaq, sodakoh) kedudukannya lebih mulia daripada orang yang meminta atau menerima.

Jika kita cermati bersama hadits di atas, baik tekstual maupun kontekstual lebih cenderung pemaknaannya kepada hal-hal terkait dengan muamalah kita dalam kehidupan sehari-hari. Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk sebisa mungkin bersedekah atau berinfaq yang tentu berpahala besar dan sangat mulia. Sementara, meminta-minta adalah pekerjaan yang tidak mulia, sehingga dikatakan hadits tersebut tangan yang di atas atau yang memberi kedudukannya lebih mulia daripada tangan yang di bawah atau meminta-minta.

Sudah jelas sekali pemaknaan dari hadits tersebut. Sehingga berbeda dengan konteks memberi sejumlah uang kepada orang lain atau tradisi pecingan pada hari raya Idul Fitri. Meski konteksnya adalah memberi sebagai pecingan tetapi jika dilakukan dengan iklhas tentu akan berpahala juga karena mengandung unsur ibadah. Sedangkan penerima pecingan yang kebanyakan anak-anak atau remaja, pastinya memiliki rasa berharap diberi pecingan tahunan itu karena sudah menjadi tradisi. Uang hasil pecingan itu mereka gunakan untuk merayakan hari lebaran bersama teman atau saudaranya yang lain.

Anak-anak atau remaja yang menerima pecingan dengan suka cita di hari lebaran berbeda dengan mereka yang menerima uang karena meminta atau mengemis. Mereka menerima sejumlah uang pecingan dari kalangan sendiri, dari orang-orang yang dikenalnya atau dari orang-orang dekatnya. Perasaan berharap dan bersuka cita karena menerima uang pecingan mereka rasakan di saat lebaran saja, di hari-hari lain karena memang tidak ada tradisi tersebut tentu saja tidak.

Memang tidak sepenuhnya demikian. Kegiatan pecingan bisa saja terjadi di luar tradisi tahunan tersebut, meski momen akbarnya hanya kita temukan di hari lebaran. Pecingan terkadang dilakukan oleh orang-orang yang dianggap telah sukses bekerja/berusaha di luar tanah kelahirannya. Ketika pulang dengan memanfaatkan momen berkumpul kembali dengan teman-teman dekatnya, teman sekampungnya atau unsur yang lain, maka di saat itu tidak sedikit dari mereka yang kemudian ingin berbagi dengan memberikan pecingan kepada orang-orang sekitarnya tanpa melihat kemampuan masing-masing. Sebagai penghormatan, tentu teman-teman akan menghargai pemberian tersebut dengan senang hati.

Jika ditelisik lebih jauh akan sangat banyak tradisi pecingan di luar hari lebaran, meski sekali lagi momen terbesar tersebut hanya ada di hari raya Idul Fitri yang berlangsung setiap tahun. Dari situ sudah jelas sekali konteks pemberian pecingan berbeda dengan pesan moral yang disampaikan hadits yang mengatakan tangan di atas lebih baik/mulia daripada tangan yang dibawah (menerima). Wallahua’lam bi shawab. *

***Penulis adalah Kepala Bidang Penelitian dan Pegembangan Baperlitbangda Kabupaten Brebes
BERITA LAINNYA