Take a fresh look at your lifestyle.

Warga Menilai Pengusiran Penunggak Rusunawa Kraton Tak Manusiawi

170

TEGAL-Pemkot Tegal tengah berusaha tegas dalam menekan angka tunggakan sewa Rusunawa Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Para penunggak yang dianggap nakal tidak mau membayar kewajiban, diusir dengan mengeluarkan secara paksa seisi rumah.

Meski demikian, kebijakan dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) ini dianggap tidak tepat sasaran dan tidak manusiawi oleh penghuni rusun yang  yang rata-rata masyarakat golongan bawah.

Seperti saat tim yang dipimpin Kepala Disperkim Eko Setiawan mengeksekusi dengan mengeluarkan secara paksa barang-barang dua keluarga penghuni Rusunawa Kraton di Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Kamis (25/7).

Isak tangis keluarga Zaenal yang menduduki sebuah hunian di Blok B Lantai 3, dan Pendi Blok A Lantai 2 pecah saat melihat seluruh barang-barangnya di keluarkan.

Istri Zaenal bahkan terus-terusan meneteskan air mata. Sementara anak Pendi terus menangis hingga membuat tetangga turut prihatin. Padahal keduanya mengaku sudah berusaha melunasi tunggakan dengan cara menyicil.

Menurut Zaenal, sebenarnya upaya negosiasi untuk mendapat kebijakan sudah dilakukan. Dari tunggakan sekitar Rp 7 jutaan, ia sudah berusaha menyicilnya setiap bulan.

Ia mengaku belum bisa melunasi karena himpitan ekonomi. Penghasilan dari bekerja sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Sama halnya dengan Pendi yang disampaikan kerabatnya, penghasilannya dari pemulung kardus atau barang bekas belum cukup untuk melunasi tunggakan sewa.

“Kalau memang mau adil jangan pandang bulu. Lainnya yang menunggak juga harus ditindak. Kami minta keadilan. Kami minta kebijakan Pak Wali Kota. Paling tidak diberi kesempatan melunasi dengan cara mencicil,” ujarnya.

Menurut dia, tindakan dengan mengeluarkan secara paksa seisi rumah tidak manusiawi. Apalagi Rusunawa yang sejatinya diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 1 juta itu sudah mulai banyak dihuni orang-orang mampu.

“Sekarang banyak yang pakai mobil. Motor metik besar. Apa mereka juga ditindak jika menunggak. Sementara kami yang benar-benar tidak mampu tidak diberi kesempatan. Ini kan tidak adil,” terangnya.

Kepala Disperkim Eko Setyawan mengaku tindakan eksekusi sebagai bentuk tindakan tegas untuk memberikan efek jera agar warga penghuni tertib dalam membayar sewa.

“Sesuai etika birokrasi kita sudah sesuai prosedur teguran satu hingga tiga dan pernyataan kesanggupan. Aksi ini secara bertahap dan akan dievaluasi,” kata dia.  

 Ia juga menyatakan, dalam menindak tegas dimulai dari penghuni dengan jumlah tunggakan tertinggi.  “Iya betul tebang pilih bagi mereka yang paling parah. Tebang pilihnya disitu,” pungkasnya. (setya/38Red)

BERITA LAINNYA