Take a fresh look at your lifestyle.

Warga Karangjambu yang Meninggal Tunggu Uji Lab Korona

173

SLAWI – Teka teki meninggalnya warga Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Teg di RSUD dr. Soeselo pada Minggu (29/3) lalu, belum bisa dipastikan. Kendati berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) Covid-19, namun harus masih harus menunggu hasil uji laboratorium. Kematian pasien laki-laki berusia 36 tahun sebelumnya baru datang dari Jakarta sepekan lalu.

“Saat datang ke rumah sakit, langsung kita tetapkan statusnya sebagai ODP karena dari tracking diketahui pasien baru datang dari Jakarta,” kata Direktur RSUD dr. Soeselo Slawi dr Guntur Muhammad Taqwin, Rabu (1/4).

Guntur menuturkan, jika ada pasien dengan gejala klinis seperti demam tinggi dan memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah, maka protokol kesehatannya secara otomatis menempatkan yang bersangkutan sebagai ODP. “Pasien tersebut datang ke IGD dengan kondisi demam dan tensi tinggi. Sebelum meninggal, pasien sempat mengalami penurunan kesadaran dan keluar pendarahan dari mulut dan hidung,” jelasnya.

Guntur mengungkapkan, sejak kedatangannya di ruang isolasi IGD, pasien ini akan dipindahkan ke ruang isolasi ICU. Namun karena penuh, sudah terisi pasien Pasien Dalam Pengawasan (PDP), oleh dokter jaga IGD, pasien dipindahkan ke ruang isolasi Palm. “Saat di ruang isolasi Palm inilah pasien mengalami henti jantung, sehingga oleh tim medis dilakukan tindakan resusitasi jantung paru-paru dengan pemberian oksigen dan obat-obatan emergency, namun tetap tak tertolong,” tuturnya.

Menurut dia, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, tim dokter pun telah mengambil sampel lendir tenggorokan pasien dan mengirimkannya ke laboratorium kesehatan di Yogyakarta. Sementara untuk pengurusan jenazahnya, pihaknya telah menerapkan standar operasional prosedur penanganan jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Pada kasus ini, kita terapkan prosedur penanganan Covid-19 sebagai antisipasi kemungkinan terburuk pasien terpapar Virus Korona, meskipun jika dilihat dari gejala klinisnya, kematian pasien lebih disebabkan komplikasi penyakit seperti jantung ataupun stroke yang memicu pecahnya pembuluh darah, termasuk TB paru karena dari penelusuran kami ke keluarganya, ada riwayat pasien untuk pengobatan penyakit ini”, katanya.

Guntur menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu menstigma pasien ini meninggal karena terinfeksi Covid-19 karena memang hasil tesnya belum keluar. Sikap waspada dalam situasi seperti ini, kata Guntur, sangat diperlukan karena potensi berpindahnya virus dari kota besar ke desa-desa cukup besar seiring dengan meningkatnya arus mudik, kepulangan warga ke kampung halamannya.

“Sepanjang warga disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, tidak bersentuhan secara fisik, menjaga jarak aman minimal satu hingga dua meter dengan siapa pun, entah itu dengan anggota keluarga, teman ataupun tetangga, terlebih mereka yang baru datang dari zona merah, tentunya tidak perlu panik”, katanya. (Wiwit/red03)

BERITA LAINNYA