Take a fresh look at your lifestyle.

Ulat Grayak Serang Tanaman Jagung di Kersana

162

BREBES – Hama ulat grayak ditemukan menyerah lahan tanaman jagung milik petani di Desa Kersana, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. Serangan hama itu kini telah meresahkan para petani karena menyebabkan tanaman mereka rusak dan terancam gagal panen. Atas temuan itu, tim Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian, kemarin, turun ke lapangan untuk mengecek kondisi serangan dan dampak yang ditimbulkan.

“Kami masih awam dengan hama ulat ini. Tapi, serangannya ini sudah meresahkan karena lahan jagung warga telah banyak terserang,” kata Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kersana, Masduk, saat ditemui di lapangan, kemarin.

Dia mengatakan, dari lahan tanaman jangung seluas 37 ha yang berumur 3 minggu, lahan seluas 6 ha di antaranya sudah terdampak. Kendati demikian, pihaknya belum mendeteksi semua wilayah. Sebab lahan yang terdeteksi itu baru di Desa Kersana. Atas keresahan dan laporan warga itu, Tim BBPOPT Jatisari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian, datang untuk memberikan Sosialisasi pengendalian ulat Grayak Spodoptera Frugiperda ini. Mereka juga mengecek langsung dampak yang dirasakan petani. “Kami bersama petani langsung dibimbing untuk mengatasi hama ulat ganas asal Afrika ini. Kami diberi tahu cara mengatasi secara dini, dari telur hingga ngengatnya,” terang dia.

Sementara Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian, Enie Tauruslina menjelaskan, dari laporan yang diterima, hampir seluruh wilayah Jateng terdeteksi hama ulat tersebut. Sedangkan untuk wilayah Indonesia, dari 34 provinsi, ada 27 provinsi yang sudah terverifikasi kena hama ulat Grapyak. “Hama ini pertama kali ditemukan di benua Amerika ke Afrika. Ngengatnya mampu terbang ratusan kilometer dibantu angin,” jelasnya saat bertemu para petani.

Guna membantu petani, kata dia, pihaknya langsung berikan informasi dasar mengenai serangan hama tersebut, serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif, efisien dan aman terhadap lingkungan. Sebab hama ulat grayak itu, dapat merusak tanaman jagung dalam waktu singkat. Sehingga penting melakukan pencegahan dan pengendalian hama secara dini. “Fase yang paling merusak dari hama jagung ini saat larva atau ulat. Saat daun muda, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung,” paparnya.

Petugas Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Willing Bagariang manambahkan, jika tanaman sudah terdeteksi petani bisa menaruh telur ulat di dalam bambu. Kemudian, di pinggir bambu diberi lotion. Saat larva menetas, akan mati kena lotion. Tapi musuh alami hama tersebut adalah kumbang kepik dan semut. Namun jika hama sudah menyerang cukup parah, maka bisa menggunakan insektisida yang berbahan aktif emamektin benzoat, spinetoram, klorantraniliprol, atau tiomektosam. “Langkan pencegahan dan pengendalian lainnya, dapat dilakukan melalui penggunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah baik dan bebas dari penyakit. Intinya, petani harus melakukan pengamatan yang teratur, seminggu sekali untuk bisa mengambil keputusan yang tepat jika ditemui ada gejala serangan di tanamannya,” pungkas dia.

(b.setiawan-red2)

BERITA LAINNYA