Take a fresh look at your lifestyle.

Tradisi Ngasa di Desa Gandoang, Bentuk Syukur Kepada Sang Pencipta

149

BUMIAYU– Ratusan warga mengikuti upacara adat Ngasa Gunung Sagara di Desa Gandoang, Kecamatan Salem, Brebes, Selasa (10/3) kemarin. Ritual ini merupakan sedekah gunung sebagai bentuk syukur nikmat sekaligus permohonan keselamatan bagi warga dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Prosesi Ngasa dimulai pukul 08.00. Diawali dengan jalan kaki sejauh lebih kurang dua kilometer dari kantor desa menuju lokasi upacara adat Ngasa yang disebut sebagai Gedong Jimat. Mereka membawa aneka makanan dari bahan baku jagung. Lauknya pun dari umbi-umbian.

Beberapa meter sebelum mencapai lokasi, warga terlebih dahulu mensucikan diri di lokasi sumber air yang disebut Pancuran Lima. Setelahnya, barulah warga memasuki area upacara Ngasa. Mereka berkumpul dengan warga yang datang dari Gedong Eyang Batara Guru dan Puncak Sagara. Di sekitar warga yang berkumpul itu terdapat gubuk dari bambu. Itulah yang disebut Gedog Jimat.

Sekitar pukul 11,30, upacara adat Ngasa dimulai dengan sambutan-sambutan kepala desa, camat dan tokoh adat atau juru kunci. Puncak Ngasa sendiri diisi dengan pembacaan doa meminta keberkahan dan keselamatan. Ngasa kemudian ditutup dengan makan bersama.

Kepala Desa Gandoang menuturkan, ada sekitar 400 warga yang mengikuti adat Ngasa. Beberapa diantaranya berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat. Ngasa sendiri sudah berlangsung turun temurun dan dilaksanakan setiap bulan Maret di hari Selasa Kliwon.”Adat Ngasa ini dilakukan sebagai bentuk syukur masyarakat kepada Alloh Swt, Sang Maha Pencipta. Tadi doa-doa yang disampaikan meminta keberkahan dan keselamatan desa dan bangsa pada umumnya,” kata dia.

Sebagai warisan turun temurun dari leluhur, kades menegaskan adat Ngasa akan terus dilestarikan. Pihaknya juga berencana mengalokasikan anggaran dana desa memperbaiki akses ke Gunung Sagara sekaligus membukukan riwayat atau sejarah Ngasa.”Saat ini sedang digali sejarahnya dan akan dibukukan. Supaya tidak ada salah penafsiran,” katanya.

Sementara Camat Salem Nur Ari HY mengapresiasi sekaligus mendukung upaya pemerintah desa untuk mempertahankan tradisi tersebut.”Ini tidak saja melestarikan budaya, tapi juga menjadi momen warga untuk berkumpul saling bersilaturahim,” katanya. Camat juga mendorong agar adat Ngasa bisa dikembangkan menjadi suguhan wisata budaya. Menurutnya, melalui kemasan wisata yang menarik, upacara adat tersebut dapat menjadi tontonan bagi wisatawan, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.(Teguh Tribowo/Red38)

BERITA LAINNYA