Take a fresh look at your lifestyle.

Tipikor Segera Gelar Kasus SMPN 17 Tegal

129

* Resume BPKP, Temukan Kerugian Negara

TEGAL – Jajarsan penyidik di Unit II Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Sat Reskrim Polres Tegal Kota, Tim Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jateng, Kejari Tegal, segera menggelar perkara kasus dugaan korupsi pembangunan ruang guru di SMPN 17 Kota Tegal.

Itu setelah, tim auditor dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jateng, melakukan pengecekan administrasi, berkas-berkas pencairan anggaran, dan mengecek lapangan kondisi bangunan ruang guru di SMPN 17 Kota Tegal, yang kondisinya kini mangkrak.

”Ya ini setelah Tim BPKP selesai memberikan laporan pengecekan lapangan dan berkas-berkas lainnya, kami segera melakukan gelar perkara kasus ini. Secepatnya dalam waktu dekat,” terang Kasat Reskrim Polres Tegal Kota AKP Agus Budi Yuwono SH MH, didampingi Kanit II Tipikor Iptu Daryanto SH MH.

Dia mengungkapkan, sejumlah petugas auditor itu telah memanggil sejumlah saksi untuk mengonfirmasikan beberapa temuan yang telah dimiliki. Mereka memintai keterangan di ruang penyidik Unit II Tipikor.

Petugas auditor, antara lain, Budi, Sodikin dan Riswan Purba. Mereka memintai keterangan dari pihak pembangun, seperti dari owner dan pimpinan CV Omega selaku pemenang lelang proyek itu, sejak Rabu (2/10) hingga Jumat (4/10).

Salah satu temuan Proyek pembangunan ruang guru ini senilai Rp 774.950.000 APBD 2014, antara lain, proyek itu seharusnya dikerjakan pemenang lelang. Tapi dalam praktiknya diduga pembangunannya disubkan ke orang lain.

Pengecekan Lapangan

Sementara itu, selain melakukan pemeriksaan terhadap pelaksana pembangunan, tim auditor juga melakukan pengecekan lapangan. Mereka didampingi ahli bangunan dan geoteknik dari Unnes Semarang. Pantauan terakhir, pengecekan lapangan di lakukan pada, Jumat (25/10).

Sementara itu, Kanit II Tipikor Iptu Daryanto SH MH menambahkan, dugaan korupsi pembangunan ruang guru muncul, ketika pembangunan berhenti, dan mangkrak, sejak 2014.
Itu karena tim pengawas dan apraisal dari Pemkot Tegal menemukan kejanggalan.

Antara lain, dari segi kualitas bangunan tak sesuai spesifikasi yang telah ditentukan. Tim Pemkot Tegal meminta agar bangunan yang tak sesuai itu dibongkar. Tapi pihak pembangun menolak, dan akhirnya pembangunan tak dilanjutkan. Akibatnya mangkrak hingga sekarang.

Menurut penyidik, padahal pihak pembangun sudah menerima pencairan uang dari Pemkot Tegal sekitar Rp 227 juta. ”Ini karena pembangunannya mangkrak, kemudian proyek ini tak dikerjakan langsung oleh pemenang lelang dan diduga disubkan ke orang lain. Kami akhirnya mengembangkan penyelidikan kasus ini. Tapi penyidik belum menetapkan siapa tersangkanya. Nanti setelah gelar perkara terakhir kami lakukan, baru akan ditetapkan siapa tersangkanya. Tapi kalau melihat runut kasusnya, ya sudah bisa ditebak siapa tersangkanya,” terang Iptu Daryanto SH MH.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA