Take a fresh look at your lifestyle.

Tim Minim, Jenazah Covid Antre Dimakamkan

62

SLAWI,smpantura.com – Tim pemakaman jenazah Covid-19 di Kabupaten Tegal dinilai sangat minim. Tim pemakaman tinggal menyisakan 1 tim di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kondisi itu membuat proses pemakaman antre.

“Saat ini, tim pemakaman hanya difasilitasi dari BPBD Kabupaten Tegal. Padahal sebelumnya dibantu oleh tim relawan Palang Merah Indonesia (PMI),” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni, Rabu (30/6).

Wakil Ketua Komisi III yang akrab disapa Jeni itu menjelaskan, sejak ada permasalahan pemakaman di Sawangan, Desa Sigedong, Kabupaten Tegal, sepertinya tim dari PMI trauma. Mereka memilih untuk mengundurkan diri, karena dinilai tidak ada perlindungan hukum atas kejadian tersebut.

“Kami menghendaki tim pemakaman di tiap kecamatan. Untuk honornya, nanti pihak Satgas Covid-19 Kecamatan dapat berkoordinasi dengan BPBD,” ujarnya.

Sedangkan armadanya, lanjut dia, bisa menggunakan mobil ambulan puskesmas atau mobil siaga milik desa. Dengan adanya tim pemakaman dari kecamatan itu, dipastikan proses pemakaman pasien Covid-19 bakal lancar. Jeni menyebut, pasien Covid-19 yang meninggal dunia di bulan ini sangat banyak. Mendasari data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal, dalam sebulan ini jumlahnya sebanyak 131 orang.

“Kalau di rata-rata setiap harinya bisa lebih dari 4 orang. Bahkan pernah sampai 10 orang dalam sehari. Kasihan tim pemakaman dari BPBD, mereka pasti kewalahan,” ujarnya.

Selain mendapatkan honor yang layak, sambung Jeni, personel tim pemakaman juga harus mendapatkan perlindungan keselamatan. Sehingga mereka nyaman saat memakamkan jenazah pasien Covid19.

“Resiko mereka memang besar, karena ada yang pro dan kontra saat melakukan pemakaman. Maka harus difasilitasi kesejahteraannya,” ujarnya.

Hal itu juga disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Tegal, Bakhrun. Ia meminta mengaku acapkali mendapat laporan dari keluarga pasien Covid-19 yang mengalami kendala saat proses pemakaman. Mereka mengeluh karena proses pemakaman harus antri. Menurut Bakhrun, jika dalam sehari ada 5 orang yang meninggal dunia, tentu pemakaman bakal mengalami kendala. Terlebih jika alamat pasien berjauhan. Misal di Bumijawa, Margasari dan Warureja.

“Kasihan pihak keluarganya. Mereka akan menunggu lama,” ujarnya.

Bakhrun menyarankan, sebaiknya tim pemakaman ditambah. Tim harus siaga di wilayah atas, tengah dan pantura. Sehingga tidak menimbulkan kecemasan bagi keluarga pasien.

“Nanti bisa melibatkan tim relawan dari kecamatan atau desa,” sarannya.

Tim Pemakaman BPBD Kabupaten Tegal, Lugi, membenarkan jika pasien Covid-19 yang meninggal dunia jumlahnya mengalami peningkatan. Sebelum bulan Mei 2021, jumlahnya antara 1 orang hingga 3 orang.

“Sekarang bisa sampai 10 orang perharinya,” pungkasnya. (T05-Red)

BERITA LAINNYA