Take a fresh look at your lifestyle.

Tempat Karantina Komunal Minta Segera Diaktifkan Kembali

88

SLAWI – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tegal, Memet Said mendesak untuk diaktifkan kembali rumah sakit (RS) darurat di Gedung Korpri Slawi dan GOR Indoor di komplek GOR Trisanja Slawi. Hal itu mendesak dilakukan mengingat RS rujukan Covid-19 sudah tidak mampu menampung pasien positif Corona yang akan dikarantina.

“Harus segera agar pasien Covid-19 bisa ditangani maksimal, dan tidak menyebar ke masyarakat lainnya,” kata Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tegal itu.

Dikatakan, RS darurat yang dibangun pada awal merebaknya Covid-19 di Kabupaten Tegal, sudah tidak diaktifkan, karena saat itu tidak ada yang mau dikarantina di dua lokasi itu. Bahkan, dirinya bersama Anggota DPR RI Dewi Aryani sempat mengunjungi RS darurat itu, tapi sudah kosong. Padahal, seharusnya tempat karantina komunal tersebut tetap dipertahankan mengingat kasus Covid-19 masih merebak di wilayah Kabupaten Tegal.

“Kalau dulu tetap dipertahankan, mungkin kini sudah bisa digunakan dengan banyaknya pasien yang tidak terpampung di RS rujukan Covid,” ujarnya.

Dengan kondisi saat ini, lanjut dia, Pemkab harus mempersiapkan kembali. Tentunya harus mengeluarkan anggaran kembali untuk membangun tempat komunal tersebut.

Desakan juga datang dari Anggota DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi Golkar, M Khuzaeni. Ia menuturkan, sesuai rekomendasi dari WHO tentang prosentase keterisian bed isolasi dalam setiap ruangan perawatan dalam situasi gawat pandemi Covid-19, yakni maksimal 60 persen dari ketersediaan bad ruang isolasi. Hal tersebut kemungkinan untuk menghindari kelelahan tenaga kesehatan yang dapat memicu medical eror dan suboptimal medical treatment. dan agar operasional bangsal isolasi RS bekerja dgn baik.

“Sedangkan saat ini informasi yang saya dapatkan tingkat hunian tempat tidur bed isolasi RS yang menjadi rujukan Covid-19 di Kabupaten Tegal dan sekitarnya sudah lebih dari 90 persen, bahkan kabarnya ada yang lebih dari 100 persen,” bebernya.

Ditambahkan, kondisi overload pasien Covid-19 di RS dikhawatirkan menjadi episentrum penularan bagi pasien ke pasien, pasien ke tenaga medis, dan dari tenaga medis ke tenaga medis lainnya. Hal ini dikarenakan terbatasnya bangsal cohorting dan isolasi, proses diagnostik swab yang butuh waktu, sehingga pasien suspek Covid bercampur dengan pasien non clCovid di UGD.

“Ada kekhawatiran masyarakat untuk tidak berobat ke RS, karena sebagian masyarakat menganggap bahwa Covid itu tidak berbahaya yang tanpa diobatipun akan sembuh sendiri. Hal itu membuat program 3 M, yakni mencuci tangan, masker , dan menjaga jarak, tidak berhasil dan sudah tidak dipedulikan lagi,” pungkasnya. (*)

BERITA LAINNYA