Take a fresh look at your lifestyle.

Surplus Beras di Kabupaten Tegal Mencapai 33. 215 Ton

74

SLAWI- Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Toto Subandriyo mengatakan,  Kabupaten Tegal, tengah mengalami surplus bahan pangan pokok.

Surplus tak hanya pada komoditas beras, tapi juga sepuluh kebutuhan bahan pangan pokok lainnya. Yakni, jagung, bawang merah, bawang  putih, cabai besar, cabai rawit,daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir dan minyak  goreng.

“Kondisi ketersediaan kebutuhan bahan pangan pokok sampai dengan tanggal 23 Juli , untuk komoditas beras tersedia 33.607 ton. Dengan kebutuhan 392 ton, maka surplus 33. 215 ton,”jelas Toto, Jumat (24/7).

Untuk jagung terdapat surplus 25.201 ton, bawang merah 51.101 ton, bawang putih 21.381 ton dan cabai besar 3.000 ton. Kemudian, cabai rawit surplus 539 ton, daging sapi/kerbau 1 ton, daging ayam ras 40 ton,telur ayam ras 3 ton, gula pasir 2.524 ton dan minyak goreng 15 ton.

Toto mengatakan,  permintaan bahan pokok  di masa pandemi Covid-19 memang berkurang, terutama untuk komoditas seperti cabai, bawang putih, daging dan telor.

“Kegiatan sosial masyarakat juga dibatasi. Sementara warung dan restoran banyak yang masih tutup, pesta perkawinan juga masih terbatas,”imbuhnya.

Dijelaskan olehnya,  khusus untuk beras, kondisi surplus juga dipengaruhi oleh panen raya yang masih berlangsung di Kabupaten Tegal. Diperkirakan panen raya akan berlangsung sampai Desember mendatang.

“Meskipun FAO memprediksi tahun ini terjadi krisis pangan kalau tidak diantisipasi, alhamdulillah di Kabupaten Tegal, seperti di Dukuhwaru dan Pagerbarang semua lahan ditanami padi. Semua hamparan padi menguning,”sebut Toto.

Kecukupan stok beras juga disampaikan Kepala Perum Bulog Cabang Pekalongan, Arie Apriansyah.  Arie mengungkapkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Kota dan Kabupaten Tegal cukup untuk memenuhi kebutuhan empat sampai dengan enam bulan ke depan.

“Jumlah total se-Eks Karesidenan Pekalongan 31.00 ton. Kebutuhan pengeluaran sebanyak  4.000  sampai dengan  5.000 ton per bulan. Berarti masih aman lima bulan ke depan,”jelasnya.

Menurutnya, Bulog terus melakukan penyerapan gabah kering panen (GKP) meskipun saat ini harga di tingkat petani lebih tinggi dari harga standar Bulog. Saat ini harga GKP di lahan petani telah mencapai Rp 4.500 per kilogram, sedangkan harga  standar Bulog sebesar Rp 4.000 per kilogram.

Dengan harga yang tinggi di pasaran, petani dibebaskan menjual hasil panen kepada pihak lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

“Petani sekarang lebih memilih menjual gabah ke pasar bebas karena harganya lebih menguntungkan . Kita tidak bisa memaksa petani untuk jual harga lebih murah. Karena memang murni bisnis,”ungkapnya. (Sari/Red-06)

 

BERITA LAINNYA