Take a fresh look at your lifestyle.

Soal Uji Kompetensi Farmasi Perlu Dirubah

235

TEGAL – Materi soal uji kompetensi yang disodorkan ke mahasiswa Program Studi (Prodi) D3 Farmasi Politeknik Harapan Bersama (PHB) Tegal, kini perlu dirubah total. Khususnya pada struktur sajian soal tersebut.

Hal itu ditegaskan salah seorang perwakilan Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia (APDFI) Yustisia Dian Advistasari MSc  Apt, saat menggembleng 28 dosen D3 Farmasi PHB Tegal.

”Jadi selama ini masih banyak dosen yang melakukan kesalahan dalam membuat struktur soal. Akibatnya mahasiswa seringkali sulit menjawab pertanyaan untuk uji kompetensi dalam rangka mendapatkan sertifikasi kefarmasian,” terang dia, saat menjadi pemateri Workshop dan Pelatihan Penyusunan Pembuatan Soal Uji Kompetensi Berbasis Computer Based Test (CBT), di Kampus I Gedung A Laboratorium II Farmasi, Jl Mataram No 9 Kota Tegal, Selasa.

Dia menambahkan, sebenarnya kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam menjawab soal uji kompetensi, bukan karena sulitnya materi soal yang diujikan. Tapi lebih berdasar sulitnya mahasiswa memahami struktur soal tersebut yang disodorkan. Karena itulah struktur soal yang disajikan perlu dirubah dan harus berbasis CBT.
Kaprodi D3 Farmasi Heru Nurcahyo SFarm MSc Apt mengatakan, uji kompetensi yang digelar dengan peserta para dosen D3 Farmasi, sebenarnya sebagai salah satu upaya mengukur tingkat pencapaian kompetensi hasil belajar calon Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).

Standarisasi Lulusan
Upaya tersebut bertujuan untuk standarisasi kemampuan lulusan prodinya sebagai calon tenaga itu. Khususnya dalam menjalankan profesinya setelah mengantongi ahli madya kefarmasian dan mendapatkan sertifikat TTK.

Apalagi sebelumnya atau selama ini para dosen hanya berkutat membuat soal dengan metode cek poin biasa. Tapi belum terstandar secara CBT. Harapannya dengan pelatihan tersebut, semua dosen sudah terlatih dalam membuat soal uji kompetensi berstandar CBT.

Sementara itu, Wakil Direktur I Bidang Akademik PHB Tegal, Arfan Haqiqi S MKom mengatakan, keberhasilan program studi dalam mencetak lulusan yang terstandarisasi secara nasional, salah satunya dengan adanya uji kompetensi. Agar lulusannya mendapatkan sertifikat kompetensi yang telah teruji kualitasnya.
”Karena itulah, dengan adanya kegiatan workshop ini diharapkan para dosen lebih memahami proses atau cara pembuatan dan penyusunan soal-soal uji kompetensi dengan baik dan benar berbasis CBT,  sebagai proses akhirnya. Ini juga bisa menambah bank soal bagi dosen atau prodi sendiri,” tegas Arfan.

Di sisi lain, tujuan kegiatan itu diharapkan semua dosen sudah terlatih dalam membuat soal uji kompetensi yang berkualitas sesuai standar yang telah digariskan pemerintah. Juga diharapkan dapat menghasilkan templat atau butir soal yang dapat disimpan sebagai bank soal.
“Workshop ini juga membahas tentang upaya-upaya Prodi Farmasi dalam menghadapi uji kompetensi. Juga untuk melatih kemampuan menulis dosen, sekaligus menghasilkan templat atau butir soal yang nantinya dapat disimpan bank soal,” ucap dia.

(Rio Toepra/red2)

BERITA LAINNYA