Take a fresh look at your lifestyle.

Siap Berlayar ke Natuna, Nelayan Tegal Terbentur Harga BBM

181

TEGAL – Sedikitnya 30 kapal nelayan Pantai Utara (Pantura) Kota Tegal siap diberangkatkan menuju Perairan Natuna Utara. Kesiapan tersebut, setelah seluruh kapal dinyatakan lolos secara administrasi dan cek fisik yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu.

“Semua kapal sudah dicek secara fisik. Administrasi sudah dilengkapi. Tetapi ada satu yang masih mengganjal. Harga bahan bakar minyak yang dijanjikan pemerintah akan diberikan secara khusus, belum direalisasikan hingga saat ini,” ujar Ketua Paguyuban Nelayan Kota Tegal (PNKT) Susanto Agus Priyono usai melakukan rapat koordinasi (rakor) bersama pemilik kapal dan nahkoda, Kamis (13/02) siang.

Dalam rakor tersebut, sebagian besar para pemilik kapal dan nahkoda mengeluhkan tingginya harga solar yang bertengger di angka Rp 9.400 per liter. Nominal tersebut, dianggap sangat berbanding terbalik dengan apa yang disanterkan Pemerintah Pusat dalam beberapa pertemuan.

Untuk menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 Natuna, Susanto mengaku, setiap kapal membutuhkan sedikitnya 60 hingga 80 ton solar. Jumlah itu dikalkulasikan cukup untuk digunakan berangkat dan kembali ke Jawa.

“Untuk pulang pergi, estimasi solar yang dibutuhkan sekitar 80 ton. Sedangkan modal yang dikeluarkan untuk memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna minimal Rp 1,5 miliar,” ungkapnya.

Anggota Legislatif itu berharap, Pemerintah Pusat dapat mempertimbangkan kembali terkait harga solar yang akan diberikan kepada nelayan Pantura. Mengingat saat ini, tekad dan komitmen untuk mengisi kekosongan Natuna Utara tetap dipegang teguh.

“Nelayan Pantura Kota Tegal tetap berkomitmen untuk berangkat menjaga kedaulatan NKRI. Modal yang dibutuhkan juga besar. Untuk itu, seharusnya pemerintah bisa lebih bijak memberikan harga solar,” harapnya.

Sebelumnya, Ketua KUD Karya Mina Kota Tegal, Hadi Santoso menyebut, permintaan pemberian solar subsidi dari pemerintah terbentur dengan aturan. Dimana solar subsidi hanya diperuntukkan bagi kapal ukuran di bawah 30 Grosston (GT) dan untuk kapal di atas 30 GT menggunakan BBM industri.

Namun demikian, pihaknya berharap pemerintah bisa mempertimbangkan penggunaan BBM industri retail. Sebab, BBM industri digolongkan menjadi dua jenis, yakni industri retail dan marine. Dimana untuk BBM retail High Speed Diesel (HSD) dibanderol Rp 9.300 per liternya. Sementara, BBM marine dibanderol sekitar Rp 11.000 hingga Rp 12.000.

“Mengacu BBM retail, kami berharap pemerintah bisa memberi harga khusus menjadi Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per liter,” tegas Hadi. (haikal/red2)

BERITA LAINNYA