Take a fresh look at your lifestyle.

Shalat Idul Adha Diperbolehkan di Lakukan di Lapangan dan Masjid

132

SLAWI- Penyelenggaraan shalat Idul Adha tahun 1441 H/2020 M dibolehkan untuk dilakukan di lapangan/masjid/ruangan. Mengingat saat  ini dalam situasi bencana non alam wabah Covid-19 diimbau kegiatan dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tegal, Sukarno pada konferensi pers di posko gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Kamis (9/7).

Konferensi pers  pagi itu mengusung tema penyelenggaraan shalat Idul Adha tahun 1441 H serta penyembelihan hewan kurban menuju masyarakat produksi dan aman Covid-19.

Menurut Sukarno, penyelenggaraan shalat idul adha dapat dilakukan dengan sejumlah syarat. Diantaranya menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan.

Melakukan pembersihan dan disinfeksi di area tempat pelaksanaan, membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.

Panyelenggara juga harus menyediakan fasilitas cuci  tangan /sabun/hand sanitizer di pintu/jalur masuk dan keluar serta menyediakan alat pengecekan suhu di pintu/jalur masuk.

“Jika ditemukan jamaah dengan suhu diatas 37,5 derajat celcius , maka dilakukan pengecekan ulang dengan jarak 5 menit. Apabila suhunya masih diatas 37,5 derajat celcius , maka tidak diperkenankan masuk area tempat pelaksanaan,”terang Sukarno.

Tempat shalat idul adha juga  diminta menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter.

“Dalam pelaksanaannya, agar mempersingkat pelaksanaan shalat dan khutbah Idul Adha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya,”tuturnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, penyelenggara diminta tidak mewadahi sumbangan/sedekah jemaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan terhadap penularan penyakit.

Sementara itu, bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertulr penyakit serta orang-orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19 diimbau untuk tidak mengikuti shalat idul adha.

Penerapan protokol kesehatan juga harus diperhatikan pada saat melakukan penyembelihan hewan kurban. Pada acara yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tegal, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tegal, Khofifah menyampaikan, kegiatan kurban tahun 2020 mendasari surat edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 0008/SE/PK.320/F/06/2020 tentang pelaksanaan kegiatan kurban dalam situasi wabah bencana non alam Covid-19.

Surat edaran tersebut mengatur dua mitigasi risiko pelaksanaan kegiatan kurban di masa pandemi Covid-19 diantaranya, prosedur penjualan hewan kurban dan prosedur pemotingan hewan kurban di masa pandemi Covid-19.

“Pemotongan dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH) dan di luar RPH seperti di RPH swasta dan tempat pemotongan lainnya,”tutur Khofifah.

Untuk penyembelihan hewan kurban, khusus hari besar, masyarakat tidak dikenakan retribusi RPH. “Untuk retribusi RPH dikenakan  Rp 22.500 per ekor. Khusus hari besar tidak dikenakan,”sebutnya.

Khofifah menambahkan, pemantauan kesehatan hewan kurban dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong (antemortem) dan setelah dipotong (postmortem). (Sari/Red-06)

 

 

 

 

 

 

BERITA LAINNYA