Take a fresh look at your lifestyle.

Sewa Lahan Kawasan Industri Batang Termurah di Asia

235

BATANG- Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang akan menjadi magnet baru relokasi industri skala besar tidak hanya di Indonesia, bahkan Asia. Ini tidak lepas dari banyaknya kelebihan dari kawasan industri ini.

Salah satunya, harga sewa lahan yang bakal jadi satu yang termurah di Asia. Hal tersebut sebagai upaya menarik perusahaan multinasional yang akan melakukan relokasi investasi dari Tiongkok atau China.

” Harga sewa tanah KIT Batang akan lebih murah dibanding negara-negara lain. Itu sudah menjadi komitmen kita atas dasar perintah dari Presiden RI, Joko Widodo,” ungkap Direktur Strategi Korporasi & HCM PT Pembangunan Perumahan (PT PP), Yul Ari Pramuraharjo usai menghadiri kunjungan kerja Komisi Komisi VI DPR RI, Kamis (23/7).

Yul Ari menyebut harga sewa lahan di China di kisaran Rp 1,2 juta per m2. Lalu, harga sewa lahan di Vietnam mencapai Rp 1,3 juta per m2. Sementara harga sewa lahan di Malaysia serta Thailand Rp 1,5 juta per m2. Sesuai arahan Presiden Jokowi, harga sewa lahan di KIT Batang harus di bawah Rp 1 juta per m2.

” Ini akan diusahakan bisa terealisasi. Upaya itu bisa diwujudkan dengan mudah jika anggaran dari APBN lebih besar dibanding anggaran korporasi,” katanya.

Bupati Batang Wihaji menyambut gembira penetapan kawasan industri di Batang oleh pemerintah pusat. Kehadiran KIT akan membuat Batang dilirik sebagai daerah yang menarik bagi investor, termasuk investor luar negeri. KIT juga akan mendorong kemajuan Batang serta kesejahteraan masyarakatnya.

” Untuk KIT Batang saat ini tengah dipersiapkan dengan segala kelebihannya agar benar-benar siap menyambut investor yang datang. Terpenting KIT Batang memberi manfaat untuk bisa menciptakan lapangan kerja dengan tidak meninggalkan masyarakat lokal,” tuturnya.

Ketua Komisi VI DPR RI Arya Bima mengatakan, KIT Batang yang terkoneksi dengan jalan tol, kereta api, bandara, pelabuhan, energi listrik, air baku dan gas menjadi daya tarik investor asing melakukan relokasi ke Indonesia. Namun dia mengingatkan agar persoalan di kawasan industri Bekasi, Tangerang dan Cikampek tidak terulang di Batang.

” Disana biaya hidup buruh tinggi karena pengelola kawasan tidak menyediakan fasilitas seperti kawasan perumahan buruh, fasilitas kesehatan, pendidikan dan transportasi. Dampaknya, para buruh menuntut UMR yang tinggi dan menjadi beban korporasi. Itu jangan sampai terjadi di KIT Batang,” pintanya. (Trisno Suhito-red17)

BERITA LAINNYA