Take a fresh look at your lifestyle.

Sekolah Alam Darul Huffadz, Belajar Sambil Bermain

279

BUMIAYU– Kegiatan belajar tidak selamanya harus dilakukan di dalam kelas. Di Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, ada sekolah yang memanfaatkan alam sebagai ruang pembelajaran.

Namanya Sekolah Alam (SA) Darul Huffadz. Di sekolah ini tidak ada deretan bangunan kelas. Hanya ada satu saung. Selebihnya alam terbuka. Sekolah yang baru beroperasi tahun ini, sudah menampung 28 siswa tingkat sekolah dasar. Jam belajarnya dimulai pukul 08-14.00.

Direktur Program SA Darul Huffadz M Fatkhur Rozak mengatakan kurikulum sekolah alam sama dengan sekolah formal lain. Yang membedakannya adalah metode pengajaran maupun materinya. Kegiatan sekolah alam banyak diisi belajar sambil bermain. 70 persen di luar, 30 persen di dalam saung.”Di sini belajar sambil bermain. Mengapa demikian? karena fitrah anak-anak itu bermain. Tanpa permainan maka pengetahuan kognitif, emosional, sosial, dan fisik anak tidak dapat berkembang baik,” ujar pemerhati anak yang akrab dipanggil Kak Rozak itu.

Lulusan Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Institut Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta itu mengatakan, setiap mata pelajaran selalu diperkenalkan pada alam. Tujuannya agar proses belajar itu terjadi secara langsung dan nyata. Seperti tentang tanaman padi, maka anak anak diajak langsung ke sawah.”Dari satu media itu, selanjutnya kita bisa ajarkan hewan apa saja yang hidup di lingkungan sawah. Lalu juga mengajarkan anak anak untuk menghargai petani, karena dari kerja keras petanilah kita masih bisa menikmati nasi,” kata Rozak

Selain memperkenalkan aspek kognitif seperti di sekolah formal, sekolah alam yang bernaung di Ponpes Darul Huffadz ini juga mengajarkan pendidikan akhlak. Menurut Rozak, ada empat pilar yang digarap di kurikulum sekolah alam. Yaitu Akhlakul Karimah, Leadership, Logika Berpikir Ilmiah dan Enterpreneur.”Sedangkan untuk program unggulan adalah Hafidz Quran,” katanya. Tidak hanya itu, Rozak menambahkan, SA Darul Huffadz juga menampung anak anak berkebutuhan khusus (ABK).”Ada lima ABK yang ikut belajar. Kita dampingi mereka,” ujarnya.(Teguh Tribowo/ Red38)

BERITA LAINNYA