Take a fresh look at your lifestyle.

Satlantas Lakukan Pengetatan di Pos Klonengan, Puluhan Pemudik Diminta Putar Balik

131

MARGASARI,smpantura.com – Jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tegal gencar melaksanakan pengetatan pemeriksaan kendaraan dari luar kota yang disinyalir digunakan untuk mudik awal. Puluhan kendaraan yang digunakan mengangkut penumpang dihentikan di Pos Klonengan, Margasari, Kabupaten Tegal, Minggu (2/5).

Diantaranya travel gelap yang mengangkut belasan penumpang dari Jakarta dan Karawang. Polisi didampingi petugas dari Dinas Perhubungan, Satpol PP dan TNI memeriksa kendaraan dan identitas para penumpangnya. Selain itu menanyakan kelengkapan berupa surat sehat dan surat jalan.Sontak hal tersebut mengagetkan para supir dan penumpang yang tak membawa kelengkapan surat –surat tersebut.

Berbagai alasan diutarakan supir dan penumpang yang terjaring operasi. Ada yang mengaku hendak taksiyah, dan ada yang terang-terangan mengaku hendak pulang kampung. Pada kesempatan itu, sekaligus dilaksanakan operasi yustisi penegakan kedisiplinan protokol kesehatan.

Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas, banyak penumpang travel yang tak mengenakan masker . Dalam kegiatan tersebut, polisi memerintahkan sejumlah kendaraan yang penumpangnya tak dilengkapi surat sehat maupun surat jalan untuk putar balik ke daerah keberangkatan. Hal ini berlaku bagi pemudik yang mengenakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

“Untuk kebijakan putar balik, kami khususkan bagi kendaraan yang mengangkut keluarga, sedangkan yang membawa penumpang untuk sementara waktu kendaraan kami tahan sambil menunggu masa sidang tilang. Untuk penumpangnya kami arahkan menggunakan kendaraan semestinya seperti bus,”terang Kasat Lantas Polres Tegal AKP Dwi Himawan Chandra, kemarin.

Pada operasi yang dipimpin Kabagops Polres Tegak Kompol Heriyanto, Satlantas menahan delapan kendaraan pelat hitam yang beroperasi seperti layaknya armada travel. “Kendaraan tersebut tidak memiliki asuransi jasa raharja . Barangkali terjadi apa-apa tidak bisa diklaim untuk asuransi
penumpang, karena kendaraan yang digunakan pelat hitam,”sebut Himawan.

Sementara itu, Suwarso (40) supir travel, mengaku membawa 18 penumpang dari Karawang ke Kebumen. Semuanya pegawai proyek di Karawang. Suwarso yang sehari-hari bekerja sebagai supir ini mengaku, dia mengangkut penumpang untuk mudik, karena dirinya melihat saat ini banyak orang yang melakukan mudik, baik yang menggunakan mobil pribadi maupun bus. “Ya gimana ya, banyak yang bawa. Kerjaan saya supir. Orang pulang ya banyak, pakai bus, pakai mobil pribadi, jadi ya ngikut,”tuturnya.

Suwarso menyebutkan, dari Karawang hingga Kebumen, setiap penumpang dikenai tarif Rp 350.000 hingga Rp 400.000. Mobil yang dikendarai memiliki kapasitas 19 tempat duduk.

Sementara itu, Arif (26) supir travel dari Banjarnegara mengaku mengangkut 15 penumpang dari Jakarta karena butuh ongkos untuk pulang ke rumah. Menurut Arif, sebelumnya kendaraanya pernah terkena penyekatan di Jakarta dan dikandangkan selama dua hari.

Pada kegiatan itu, juga dilakukan uji petik pemeriksaan rapid test antigen Covid-19 kepada penumpang. Ini untuk memastikan tidak ada penumpang yang terpapar Covid-19. “Kami ambil uji petik dua penumpang untuk setiap kendaraan. Dari 50 sampel hasilnya negatif semua,”imbuh Kasat Lantas Himawan.

Sementara itu, Kasi Pembinaan, Pengawasan dan Penyuluhan Solehudin mengatakan, pada kegiatan itu, terdapat 76 orang terjaring operasi yustisi penegakan kedisiplinan protokol kesehatan. Sebanyak 50 orang memilih membayar denda sebesar Rp 10.000, dan sisanya memilih mendapat sanksi sosial diantaranya melafalkan Pancasila dan menyanyi lagu-lagu kebangsaan.

“Kami telah rutin melakuka operasi yustisi, tapi ternyata masih banyak warga melanggar. Setiap kegiatan sedikitnya 20 orang terjaring, ini yang terbanyak,”sebutnya. (T04-Red)

BERITA LAINNYA