Take a fresh look at your lifestyle.

Rocky Gerung Jelaskan Tak Anti Pancasila

155

BERI PENJELASAN : Pengamat politik Rocky Gerung memberi penjelasan, sekaligus klarifikasi berkait pernyataannya tentang Pancasila buka ideologi bangsa Indonesia, saat menjadi pembicara seminar nasional di UPS Tegal.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

* Tak Ada Bukti Sebagai Ideologi

TEGAL – Pengamat politik dan pengajar filsafat di Universitas Indonesia, Rocky Gerung menjelaskan dirinya tak anti Pancasila, dihadapan mahasiswa Universitas Pancasakti (UPS) Tegal.

Hal itu ditegaskan untuk menepis penilaian yang keliru tentang pendapatnya yang kini viral, berkait Pancasila bukan ideologi bangsa Indonesia. Bahkan karena pendapatnya tersebut, dia sampai dipolisikan.

”Jadi jelas ya, bukan saya anti Pancasila. Saya mau katakan, tidak jadi soal Pancasila mau diganti sebagai dasar ideologi negara. Yang punya ideologi itu manusia hidup,” tandas dia, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk ”Mengeja Politik Indonesia Dalam Mewujudkan Demokrasi”, di Auditorium Darijoen Seno Atmodjo UPS Tegal, Sabtu (14/12).

DENGARKAN PERTANYAAN : Nara sumber atau pembicara dalam seminar nasional, serius mendengarkan pertanyaan yang diajukan mahasiswa UPS Tegal.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

Meski seminar itu seharusnya banyak mengupas konstelasi politik di tanah air, tapi isu Pancasila yang diletupkan Rocky mampu mengubur perdebatan lainnya seputar peran Bawaslu, hingga etika politik yang dikedepankan parpol.

Hal itu terlihat saat sesi tanya jawab dibuka, dan hampir semua pembicara menjawabnya, pertanyaan banyak ditujukan ke pengamat politik yang menjadi pengajar tidak tetap di UI Depok tersebut.

Sementara itu, pembicara lainnya yang hadir adalah Guru Besar UMS Prof Dr Absori, Pakar Hukum UPS Tegal Dr Imawan Sugiharto SH MH dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Riau Dr Dessy Artina SH MH.

Menjawab semua pertanyaan itu, Rocky Gerung awalnya membeberkan soal Eropa yang tidak ada ideologi. Termasuk di Inggris yang Partai Buruh kini dikalahkan telak Partai Konservatif.

Perilaku Hidup

Dia juga menjelaskan apa itu ideologi, yang sebenarnya untuk mengatur perilaku hidup secara detail. Termasuk arti ideologi di Prancis pada tahun 1712, yang berarti melongo. Karena ideologi juga diartikan orang yang malas dalam berpikir, tapi mau menerima doktrin.

Karena diartikan seperti itu dan dijadikan pemikiran yang pasti serta tak bisa dirubah, dirinya sangat menentang. Di sisi lain, hal tersebut merupakan sejarah yang muncul di salah satu negara di Eropa.

Sementara itu, dia menentang istilah Pancasila sebagai ideologi, karena tak ada dokumennya. ”Yang ada adalah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa,” ucap dia.

Karena pernyataannya tersebut, ada yang menilai dirinya akan mengganti Pancasila. Di sisi lain, konstitusi memang memungkinkan hal itu. Sebab sesuai Pasal 37 UUD 1945.

”Memang akan susah dan menimbulkan perdebatan ramai. Tapi aturannya memang bisa. Juga ada prosedur dan tata caranya untuk mengganti. Saya ingin menjelaskan semua ketentuan ini,” ucap dia.

Dia kemudian mempertanyakan, dimana ada dokumen yang mengatakan Pancasila adalah ideologi negara. Presiden Soekarno dan Soeharto, kata dia, menyebut Pancasila bukan ideologi.

Sedangkan di dalam konstitusi hanya disebutkan dasar negara. Bung Karno menurut dia, pernah mengatakan, itu adalah filsafat negara.
Karena tak ada bukti atau jejak dokumennya sebagai ideologi, dia berpendapat perlu dilakukan pembahasan lebih mendalam dan serius lagi, dalam menempatkannya di ketatanegaraan.

Mengupas GBHN

Selain mengupas ideologi, banyak hal yang dibahas Rocky Gerung. Salah satunya dia juga menyinggung soal Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Menurut dia, GBHN itu adanya di negara-negara yang berpartai tunggal. Sebaliknya di Indonesia, parpolnya banyak. Karena itulah mengapa mesti kembali memakai GBHN.

Bahkan isu masa jabatan presiden tiga periode, juga jadi sentilah menarik dalam seminar tersebut. Menurut dia, jika itu merupakan usulan masyarakat, hendaknya parpol harus dapat menyeleksinya, jika usulan tersebut tidak benar, dan tak harus dimunculkan dalam pembahasan di DPR atau MPR.

Berkait dengan Ideologi Pancasila, Guru Besar UMS Prof Dr Absori juga mengatakan, agak kesulitan mencari dimana dasarnya dalam sistem ketatanegaraan. Sebaliknya bila merujuk pada Pasal 29 Ayat 1, dasar negara adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi dasarnya, antara lain adalah, persoalan-persoalan spiritual.

Prof Absori kemudian merunut jejak pada tanggal 1 Juni yang dinilainya merupakan gagasan Soekarno yang menjadi hari lahirnya Pancasila. Kemudian tanggal 22 Juni, yang menempatkan Piagam Jakarta, dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.

Sementara itu, meluruskan tema seminar, dosen FH Universitas Riau Dr Dessy Artina SH MH menyentil soal pentingnya politik yang sehat. Hal serupa juga disampaikan pakar hukum UPS Tegal Dr Imawan Sugiharto SH MH, yang tetap berpijak pada tema seminar.

Dia mengingatkan soal keberanian lembaga penyelenggara pemilu dan Bawaslu. Apalagi sudah ada aturan berkait tentang sangsi terhadap pelanggar pemilu. Baik sangsi administrasi berkait pencoretan calon hingga ke ranah hukum pidana.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA