Take a fresh look at your lifestyle.

Ria Candra Dewi Terbitkan Antologi KUR 267 ‘Kasmaran Ayat Pujangga’

1.051

 

TEGAL-Nama Ria Candra Dewi, kini semakin populer di Tegal. Tak hanya di dunia pendidikan sebagai guru dan dosen, namun juga di jagad kesusastraan.

Hal ini menyusul setelah beberapa karya sastranya bernamakan “Kur 267” (baca: Loro-Enem-Pitu) terhimpun di buku antologi “Kur 267 Puisi Pendek Tegalan” yang akan diterbitkan Komunitas Sastrawan Tegalan, bulan depan.

Dewi, panggilan akrabnya, pada hari-hari belakangan ini tengah fokus merampungkan antologi “Kur 267” bertajuk “Kasmaran, Ayat Pujangga”.

Sebagai editor buku, Lanang Setiawan mengungkapkan, dalam minggu kedua bulan Februari, buku tersebut direncanakan terbit.

Sehari-hari Dewi adalah dosen Politeknik Baja Dukuhwaru dan Guru Bahasa Indonesia di SMK Bhakti Praja Kabupaten Tegal.

Dewi mengaku kesengsem pada karya sastra “Kur 267” karena merupakan genre baru dalam estetika puisi pendek Tegalan. “Berawal dari karya Kur 267-nya masuk dalam antologi buku ‘Kur 267 Puisi Pendek Tegalan’ itu, dia mengaku kesengsem pada karya sastra tersebut,” ujar Lanang.

Ia sempat kaget ketika Dewi menyodorkan karya Kur 267-nya untuk dikoreksi. Dari situlah, ia kemudian diminta untuk bersedia menjadi editor.
“Dengan senang hati saya menerima tawarannya,” kata Lanang.

Sementara itu, Ria Candra Dewi mengatakan, sebagai dosen dan guru Bahasa Indonesia memiliki kepentingan untuk mendalami karya sastra berbasis kelokalan. Hal tersebut agar mahasiswa dan anak didiknya mengenali sastra lokal dan penggagas “Kur 267”.

“Sebagai dosen dan guru, saya punya kepentingan dan tanggungjawab untuk memperkenalkan sastra Tegalan pada mahasiswa dan murid-murid saya di SMK Dukuhwaru,” katanya.

Menurutnya, ia memilih editor Lanang Setiawan karena dia salah satu pencetus karya sastra “Kur 267”. “Mas Lanang Setiawan itu salah satu pecentusnya. Dia banyak membantu teman-teman seniman Tegal dalam berkarya Kur 267. Tidak salah jika saya memilih dia sebagai editor,” tandasnya.

Ia mengaku kali pertama mengenal Kur 267 dari Lanang Setiawan. Kur 267 adalah jenis karya sastra yang dimaknai sebagai puisi pendek bahasa Tegalan, terdiri dari 3 larik atau baris.

Larik pertama, terdiri 2 suku kata yang bersifat atau kata keadaan. Laris kedua terdiri 6 suku kata, berupa kalimat yang menggambarkan peristiwa.

Larik ketiga terdiri 7 suku kata berupa kalimat yang menunjukkan sebuah penutup mengandung “akibat” sebagai konsekuensi dari hubungan kausalitas dengan baris kedua.

“Secara keseluruhan puisi pendek Tegalan ini terdiri atas 15 suku kata. Namun dalam menulis Kur 267 harus ada tindakan memilih kata yang dibatasi jumlah suku kata dan harus memilih alasan kuat untuk menempatkan kata teks dalam karya tersebut.”

Lanang menambahkan, istilah “Kur 267” lahir sebagai penanda Hari Kelahiran Sastra Tegalan yang diperingati setiap tanggal 26 November. Adapun angka 7 dalam bahasa Tegalan dibaca “pitu” dimaknai sebagai “Pitulungan”.

Dalam konsep lebih luas, tanggal 26 adalah “pitulunagan” (pertolongan) bagi kelangsungan masa depan bahasa Tegalan yang terpinggirkan untuk diperjuangkan dalam gerakan sastra Tegalan. (enn/Red4)

BERITA LAINNYA