Take a fresh look at your lifestyle.

Produksi Masker, PKK Banjaragung Berdayakan Korban PHK

209

WARUREJA – Perekonomian masyarakat terus memburuk seiring menyebaran Virus Korona (Covid-19) di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya warga perantauan yang pulang kampung, karena mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempat bekerja di luar kota. Untuk memberdayakan para korban PHK itu, Tim Penggerak PKK Desa Banjaragung, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, mengajak mereka untuk membuat masker nonmedis.

“Ini sesuai dengan intruksi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tegal Ny Hj Sisca Zulistia Sabilillah Ardie untuk kader PKK memproduksi masker nonmedis. Sejauh ini, kami sudah memproduksi 5 ribu masker,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Desa Banjaragung, Nurhayati, Selasa (7/4).

Dikatakan, warga perantauan yang sudah pulang kampung ke Banjaragung sekitar 230 orang. Sebagian pulang karena diberhentikan dari pekerjaannya imbas wabah Covid-19. Dari jumlah itu, banyak yang bekerja di koveksi sehingga sudah terbiasa untuk menjahit. Hingga kini, sudah ada 19 orang yang bersedia membuat masker nonmedis.

“Mesin jahit sudah ada bantuan dari kecamatan sebanyak 10 unit. Sedangkan modal untuk membeli kain dan peralatan lainnya dari desa,” katanya.

Menurut dia, warga membuat masker di rumah masing-masing sesuai dengan anjuran pemerintah untuk tetap melakukan aktivitas di rumah. Hanya dalam waktu beberapa hari, 19 warga tersebut sudah memproduksi 5 ribu masker. Hasil produksi itu, kembali dibeli pemerintahan desa yang selanjutnya masker dibagikan ke masyarakat di desa tersebut.

“Kami berharap masker yang dibagikan dipakai untuk pencegahan Virus Korona,” himbaunya.

Ditambahkan, produksi masker warga Banjaragung yang sempat diposting di media sosial mendapatkan respon positif dari masyarakat luas. Alhasil, banyak warga atau instansi yang memesan masker nonmedis tersebut. Diantaranya, warga Semarang, Adiwerna dan warga lokal lainnya. Untuk memenuhi permintaan itu, pihaknya akan memproduksi kembali dengan memberdayakan warga sekitar. Masker itu dijual ke masyarakat umum dengan harga Rp 5.500 permasker.

“Harganya tidak terlalu mahal, dan yang terpenting warga ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

 

BERITA LAINNYA