Take a fresh look at your lifestyle.

Pesta Hajatan di Kota Tegal Ditiadakan Sampai Oktober

177

TEGAL– Pertunjukan musik dangdut yang diselenggarakan Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, Wasmad Edi Susilo dalam resepsi pernikahan dan khitanan putranya, Rabu (23/9) menuai kontroversi. Pasalnya, konser dangdut tersebut digelar di tengah pandemi dan tingginya kasus Covid di Kota Bahari.

Berbagai elemen masyarakat menyayangkan pesta hajatan tersebut digelar tanpa pengawasan protokol kesehatan ketat. Terpantau pada Rabu malam, terjadi kerumunan penonton yang tidak memakai masker dan menjaga jarak aman.

Padahal, kegiatan yang digelar di Lapangan Tegal Selatan itu sempat mendapat perhatian dari Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo usai membaca postingan warga di media sosial. Hal itu dibenarkan Wakil Wali Kota Tegal, Muhamad Jumadi saat ditemui sejumlah wartawan di rumah dinasnya, Kamis (24/9) siang.

“Acara pada siang hari saya kira masih baik-baik saja, karena musik dangdut hanya untuk menghibur tamu undangan yang makan siang. Namun yang menjadi masalah malam harinya, masyarakat berbondong-bondong datang ke sana dan menjadikan kerumunan,” kata MJ sapaan akrab Muhamad Jumadi.

Pada waktu bersamaan, sambung MJ, pihaknya mengaku tengah melakukan operasi yustisi bersama Kapolres dan Dandim di wilayah Kecamatan Tegal Timur. Operasi terhadap masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan itu dilakukan MJ hingga pukul 23.00 WIB.

MJ kemudian mendapati laporan mengenai pertunjukan musik dangdut di Lapangan Tegal Selatan yang kemudian dibubarkan pada pukul 23.30 WIB. MJ mengaku, sejauh ini Tim Gugus Tugas Penanganan Covid Kota Tegal belum mendapati izin hajatan dari pihak penyelenggara.

“Acaranya dibubarkan setelah saya, Ibu Kapolres dan Pak Dandim selesai operasi yustisi. Untuk perizinan ke Gugus Tugas sampai sekarang tidak ada,” tegasnya.

Hajatan dilarang selama Oktober
Ditambahkan, sebagai evaluasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal akan menghentikan izin untuk berbagai macam hajatan selama bulan Oktober. Termasuk diantaranya hiburan yang nantinya akan menjadikan tendensi tidak bagus terhadap Pemkot Tegal yang selama ini konsisten menjaga protokol kesehatan.

Terlebih, pihaknya telah melakukan tes usap terhadap masyarakat Kota Tegal hingga 3 per seribu atau lebih tinggi dari yang distandarkan WHO 1 per seribu.

“Jika masih ada yang membandel, maka akan kita bubarkan. Tidak ada lagi keramaian-keramaian di Kota Tegal sampai dengan evaluasi selesai,” pungkasnya.

Langkah tersebut juga selaras dengan kebijakan Kepolisian yang tidak akan memberi rekomendasi segala bentuk hiburan, izin keramaian selama penanganan wabah Covid di Kota Tegal. Hal ini ditegaskan Kapolres Tegal Kota, AKBP Rita Wulandari Wibowo di Mapolres setempat.

Dikemukakan Kapolres, pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait, mengenai update kembali serta membuat perkiraan-perkiraan intelejen tentang perkembangan situasi dan wabah Covid di daerah masing-masing.

“Ini berlaku sampai dengan batas waktu yang tidak bisa ditentukan dan diterapkan untuk masyarakat umum maupun lembaga pemerintahan,” tutup Kapolres. (Haikal/red10)

BERITA LAINNYA