Take a fresh look at your lifestyle.

Pertamina Beberkan Kerugian Akibat Penyalahgunaan Solar Bersubsidi

Penjualan Turun Hingga 20 Persen

22

TEGAL, smpantura.com – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, beberkan kerugian akibat penyalahgunaan BBM bersubsidi jenis solar, dalam konferensi pers yang digelar di Terminal BBM Tegal, Kamis (7/10) kemarin.

“Kami mengakui memang ada penurunan penjualan BBM industri. Karena banyak industri yang menggunakan BBM ilegal ini,” ucap Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Marthia Mulia Asri kepada wartawan.

Meski tak disebutkan secara rinci, namun Marthia mengemukakan, penurunan penjualan Pertamina akibat penyalahgunaan solar bersubsidi mampu mencapai 20 persen, jika dibanding tahun lalu.

Dalam konferensi pers kemarin, Marthia juga mengapresiasi kinerja Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri, atas pengungkapan kasus penyalahgunaan solar bersubsidi di Pelabuhan Jongor, Kota Tegal. Dari pengungkapan itu, polisi berhasil mengamankan potensi kerugian negara sebesar Rp 49.780.000.000.

“Kami masih mengikuti proses hukum yang berjalan. Untuk kemudian melihat, apakah ada keterlibatan oknum di SPBU. Jika memang ada, maka sanksi pembekuan izin bisa diberikan,” tandasnya.

Seperti diketahui, praktik penyelewengan BBM bersubsidi jenis solar terungkap September lalu. Modusnya, kendaraan yang dimodifikasi membeli solar bersubsidi di beberapa SPBU dengan harga Rp 5.150 per liter.

Solar yang berada di dalam tangki utama, kemudian disedot ke dalam tangki besar dan dibongkar ke sebuah gudang di Kabupaten Semarang. Solar bersubsidi yang telah terkumpul, selanjutnya dijual kepada pelaku industri perikanan di Pantura Jawa Tengah, dengan harga berkisar Rp 7.500 hingga Rp 7.800 per liter.

Harga yang cukup murah itu diduga menjadi daya tarik para pelaku industri untuk membeli. Sebab, harga normal solar industri di Pertamina dibanderol Rp 8.000 sampai dengan Rp 9.000 per liternya. (T03-red)

BERITA LAINNYA