Take a fresh look at your lifestyle.

Pertama di Indonesia, Desa Wisata Terapkan QRIS

183

SLAWI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal secara resmi meluncurkan Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik, di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Minggu (16/2) siang.

Pasar Slumpring yang masuk dalam kategori Desa Wisata ini menjadi yang pertama di Indonesia, dalam penggunaan transaksi QR Code Indonesian Standard (QRIS). Dimana untuk realisasinya, setiap pengunjung cukup menyiapkan dompet digital untuk kemudian melakukan scanning pada logo barcode yang tersedia.

Kepala KPw BI Tegal, Muhamad Taufik Amrozy mengatakan, peluncuran QRIS merupakan jawaban akan perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat. QR Code digunakan untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QRIS.

Menurutnya, selain di Pasar Slumpring, pihaknya akan gencar melakukan sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di wilayah Eks-Karesidenana Pekalongan. Sebab, saat ini tren GNNT terpantau terus mengalami kenaikan setiap tahunnya.

“Berawal dari 36 persen. Dulu Indonesia kalah dengan Bangladesh dalam hal GNNT. Tetapi beberapa tahun belakangan ini trennya semakin meningkat. Bahkan bisa mencapai 70 persen lebih,” katanya.

Dikemukakan Taufik, penerapan QRIS dilakukan secara meluas bersinergi dengan kementerian, Penyedia Jasa Sistem Pembayaran (PJSP), perbankan, merchant dan pihak terkait. Adapun tujuannya, untuk mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan dan memajukan UMKM.

“Pada akhirnya, QRIS ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Termasuk juga memangkas biaya cetak uang yang mencapai triliunan rupiah. Karena secara tidak langsung, penggunaan uang cash berkurang dan digantikan dengan digital,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cempaka, Abdul Hayi mengemukakan, kehadiran QRIS di Pasar Slumpring merupakan terobosan yang dinantikan pada era ekonomi digital seperti sekarang ini.

Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, yang telah memilih Pasar Slumpring, sebagai Desa Wisata yang pertama dalam mengimplementasikan QRIS. Diakui Hayi, kehadiran QRIS selaras dengan budaya dan kearifan lokal yang kental di Desa Cempaka.

“Walaupun di sini menggunakan cara kuno, tetapi tetap menjadi kekinian dengan adanya QRIS,” ucapnya.

Pasar Slumpring sendiri merupakan desa wisata yang didirikan sejak 2018 lalu. Dengan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar, pasar yang dibuka setiap Minggu pagi ini menjajakan berbagai macam makanan tradisional.

Uniknya, dalam bertansaksi setiap pengunjung diwajibkan menukarkan uang tunai dengan koin yang terbuat dari bambu. Dimana untuk satu koin bambu memiliki nilai rupiah sebesar 2.500.

Sesusai rencana, sistem barcode atau QRIS di Pasar Slumpring, diterapkan pada loket masuk, pembayaran parkir, penukaran koin dan pembayaran toilet.

“Dengan adanya QRIS, maka sistem keuangan kami berjalan transparan. Tidak ada lagi kebocoran, karena sistemnya sudah terpadu. Setelah dilaunching, untuk seharian ini tercatat ada 50 transaksi yang menggunakan QRIS, ” imbuh Hayi. (Haikal/red2)

BERITA LAINNYA