Take a fresh look at your lifestyle.

Persamaan Gender Sudah Diterapkan Sejak Era MN I

143

GARDA Mangkunagaran Cabang Jawa Tengah & DI Yogyakarta kembali menggelar webinar yang kedua kalinya dengan tema yang berbeda. Pada webinar pertama 28 Februari 2021 lalu, tema yang diangkat mengenai sejarah leluhur Keluarga Besar Mangkunagaran, dengan narasumber KRMH. Daradjadi Gondodiprojo dan moderator R. Yudi Prastiawan, ST.
Sedangkan webinar kedua yang diadakan pada 28 Maret 2021 mengangkat tema warisan budaya Mangkunagaran sebagai bagian identitas Kota Solo, webinar diadakan juga dalam rangka ikut menyemarakkan peringatan Hadeging Praja Mangkunagaran ke-264 tahun.
Dalam kesempatan ini Garda Mangkunagaran menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang budaya, yaitu Dra. RAyT. Irawati Kusumorasri, M. Sn (Direktur SIPA) dan Dr. Susanto, M. Hum (Kaprodi Ilmu Sejarah FIB UNS).

Dalam sambutannya Ketua Garda MN Cab. Jateng & DIY, R. Mochammad Bagus Pratomo Ryagede, ST menjelaskan latar belakang diangkatnya tema budaya pada webinar kedua ini, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan jati diri dan budayanya, baik budaya daerah maupun nasional. Budaya harus mampu menjadi filter bagi berbagai macam pengaruh yang datang dari luar, agar karakter dan identitas manusia Jawa serta Indonesia pada umumnya tak pernah luntur.”

Tercatat ada cukup banyak tamu undangan yang hadir pada webinar ini. Mulai dari para akademisi perguruan tinggi ternama, redaktur berbagai media, pengelola museum, penggerak yayasan serta komunitas budaya, dan lain sebagainya.

Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Dra. RAyT. Irawati Kusumorasri, M. Sn yang membahas tentang berbagai warisan budaya Mangkunagaran sebagai bagian identitas Kota Solo, baik yang berupa bendawi maupun non bendawi. Pembahasan diawali dengan sejarah berdirinya Pemerintahan Kadipaten Mangkunagaran melalui Perjanjian di Kalicacing, Salatiga pada 17 Maret 1757. Berdirinya Praja Mangkunagaran merupakan hasil perjuangan RM. Said (akhirnya menjadi KGPAA. Mangkunagara I) selama 16 tahun melawan VOC, Susuhunan Pakubuwana II-III dan Sultan Hamengkubuwana I.

Pada masa bertahtanya KGPAA. Mangkunagara I, peran kaum wanita sudah mulai terlihat, salah satunya dibuktikan dengan keberadaan carik/sekretaris perempuan yang bertugas menuliskan Babat Tutur/Nitik dan Babad Lelampahan, dua warisan literasi Mangkunagaran yang luar biasa. Bahkan pada masa MN I itu terdapat pasukan estri atau pasukan wanita, yang mahir dalam berperang. Kedua hal tersebut menunjukkan adanya persamaan gender pada masa itu.

Dalam penyampaian materi sesi kedua oleh Dr. Susanto, M. Hum didalami mengenai ekologi kota Mangkunagaran yang sudah sangat modern pada zamannya. Disampaikan sebuah fakta bahwa Praja Mangkunagaran telah lebih dulu mengenal modernitas dibanding dengan dinasti lain di Jawa, salah satunya dapat dilihat dari arsitektur Pura/Istana Mangunagaran, yang bangunannya sudah tersentuh gaya Eropa.

Pasukan atau prajurit di Mangkunagaran yang bernama Legiun Mangkunagaran juga sudah menggunakan berbagai atribut kelengkapan ala tentara Eropa.

“Dalam kaitan dengan klasifikasi simbol, apa yang terjadi di Kota Mangkunagaran posisi istana mempunyai makna penting sebagai pembawa simbol. Oleh karena itu konfigurasi simbol Kota Mangkunagaran selalu merujuk pada keberadaan istana terutama pada figure penguasa istana,” tandas Susanto.

Ia menambahkan, Pura Mangkunagaran berfungsi sebagai kumpulan dari sejumlah simbol (nested simbolism). Gambaran tersebut pada satu sisi, budaya material Kota Mangkunagaran dapat bersifat top-down simbolism, namun dalam konteks penguasa di atasnya yaitu Susuhunan, dapat dimaknai pula sebagai buttom-up simbolism.

Tata kota Mangkunagaran sangat berbeda dengan Kasunanan. Bentuk materi budaya sebagai simbol ekologi Kota Mangkunagaran yang bergaya Eropa dapat dilihat dari nama kampung, keberadaan taman istana dan taman kota, berbagai jenis upacara, arsitektur bangunan, fashion, serta seni musik.

Di area Pura Mangkunagaran terdapat taman yang indah dengan interior bergaya Eropa yang dinamakan Ujung Puri, taman itu dibangun oleh KGPAA. Mangkunagara V. Dulu, di dalamnya terdapat berbagai koleksi binatang seperti jerapah, harimau, singa, kera, ular dan lain sebagainya. Hebatnya, pada masa itu taman tersebut dibuka untuk masyarakat umum setiap hari Minggu, dari pk 08.00-12.00 WIB. (T08-red)

BERITA LAINNYA