Take a fresh look at your lifestyle.

Pemkot Tegal Ajak Masyarakat Olah Sampah dengan 3R

113

TEGAL, smpantura.com – Pemerintah Kota Tegal mengajak masyarakat dan pemerintah di kota-kota lain untuk turut serta menjalankan program pengelolaan dan daur ulang sampah, terutama sampah plastik.

Hal itu terungkap, saat Wakil Wali Kota Tegal Muhamad Jumadi mengikuti webinar bersama PT Trinseo Materials Indonesia dan PT Kemasan yang telah konsisten menjalankan program “Yok Yok Ayok Daur Ulang”, Senin (25/3) sore.

Menurut Jumadi, volume sampah yang tidak terkelola dengan baik dan banyaknya sampah yang berakhir di TPA masih menjadi permasalahan yang disebabkan oleh belum adanya optimalisasi dalam mengelola dan mendaur ulang sampah plastik di negeri ini.

Sesuai data, setiap hari warga Kota Bahari menghasilkan hingga 250 ton sampah. Dimana 30 persen diantaranya merupakan sampah plastik, sebesar 214 ton total timbunan sampah, serta 16 ton volume sampah anorganik. Dari jumlah itu, yang saat ini mampu dikirim ke industri daur ulang baru 10 persen dan sisanya berakhir di TPA.

“Untuk itu, perlu adanya komitmen bersama di tingkat masyarakat untuk melakukan pengolahan 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). Sekaligus untuk menunjang adanya pusat daur ulang sampah di TPS 3R kelurahan Mintaragen,” kata Jumadi.

Kedepan, sambung dia, pihaknya kita menargetkan program tersebut dapat dilaksanakan pada tingkat rumah tangga, sehingga diharapkan hanya sampah residu yang tidak dapat diolah saja yang akan berakhir di TPA.

“Melalui edukasi yang tidak pernah putus, kami memaparkan kegiatan-kegiatan daur ulang sampah, misalnya cara mendaur ulang sampah plastik menjadi kerajinan tangan,” beber Jumadi.

Sementara, masih banyak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa produk ramah lingkungan merupakan produk yang dapat terurai secara alami, sehingga hal ini menggiring masyarakat berasumsi bahwa produk yang tidak dapat terurai secara alami merupakan produk yang tidak ramah lingkungan.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Wahyudi Sulistya menjelaskan, masyarakat tidak bisa mengandalkan alam atau lingkungan untuk mengurai sampah plastik. Mulai dari diri sendiri, bisa dari skala rumah tangga.

Pada kondisi seperti sekarang, masyarakat harus belajar untuk mengelola, memilah jenis sampah dan juga mendaur ulang sampah plastik untuk turut mendorong ekonomi sirkular.

Mendukung pernyataan Wahyudi, Hery Yusamandra, Program Manajer ADUPI, mengatakan, saat ini teknologi sudah semakin canggih dengan ketersediaan mesin yang dapat mengolah sampah plastik dalam waktu yang singkat menjadi produk baru.

“Misalnya briket melalui mesin predator sampah yang sudah dijalankan oleh pusat daur ulang sampah plastik Kota Tegal,” terangnya.

Terpisah, Perwakilan Responsible Care® Indonesia (RCI), Edi Rivai memaparkan, tujuan ekonomi sirkular melalui upaya pengelolaan dan daur ulang sampah.

“Ekonomi sirkular bertujuan untuk memaksimalkan siklus penggunaan material untuk meminimalisir produksi sampah dengan recovering dan menggunakan kembali berbagai macam produk dan material berulang kali secara sistematik,” tandasnya. 

Edi kembali menjelaskan, bahwa benar adanya jika penerapan pengelolaan dan daur ulang sampah plastik di Indonesia memiliki berbagai tantangan, mulai dari hal teknis dimana penggunaan multi-material membuat sulit untuk didaur ulang, infrastruktur yang masih minim, kebiasaan konsumen yang masih buruk, dan juga regulasi pemerintah kontra produktif.

Maka dari itu, implementasi daur ulang sampah bisa dimulai dari pemilihan sampah yang berasal dari sumbernya. (T03-red)

BERITA LAINNYA