Take a fresh look at your lifestyle.

Pedagang Blok A Pasar Pagi Mengadu ke Wali Kota Dedy Yon

140

 

TEGAL-Puluhan pedagang Pasar Pagi Kota Tegal yang berjualan di Blok A mendatangi Pringgitan, Rumah Dinas Wali Kota Tegal di Komplek Balai Kota Tegal, Selasa (1/10).

Kedatangan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Blok A (PPBA) itu untuk mengadu ke Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono soal kenaikan retribusi di tengah terus menurunnya omzet penjualan.

Kedatangan mereka disambut Wali Kota Dedy Yon untuk selanjutnya perwakilan diajak beraudiensi di Ruang Rapat Lantai I Setda, Pemkot Tegal. Hadir mendampingi wali kota Pj. Sekda Imam Badarudin beserta jajarannya.
Diungkapkan Ely Farisata mengatakan, salah satu pedagang yang juga anggota DPRD Kota Tegal ini, kedatangannya untuk menyampaikan beragam keluhan pedagang.

“Selama 16 tahun menduduki Pasar Pagi Blok A, dulu pendapatan tinggi, sekarang ini dalam empat tahun terakhir pendapatan turun drastis sampai 70 persen,” ujarnya.

Di sisi lain, saat omzet penjualan yang terus turun, pedagang justru harus dibebankan dengan kenaikan retribusi sesuai Perda No. 3 Tahun 2019. “Di saat pasar sepi, retribusi justru naik,” kata dia.

Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab Blok A belakangan sepi. Selain karena kehadiran pesaing, juga karena fasilitas umum yang kurang diperhatikan Pemkot sebagai pengelola.

Hal senada disampaikan pedagang lain, Eri Sujono. Menurutnya, Pemkot seharusnya melakukan kajian terlebih dahulu sebelum memberlakukan Perda yang salah satunya menaikan retribusi.

“Di tengah fasilitas umum yang kurang memadai, omzet menurun, ada juga kenaikan retribusi yang tiba-tiba tanpa proses atau kajian terlebih dahulu. Harusnya dipertimbangkan, misalnya pas atau tidak. Jangan hanya sekadar mengejar PAD,” pungkasnya.

Diungkapkan Eri, ditengah pedagang yang sedang “kelimpangan”, justru ada oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sikapnya justru memicu emosi para pedagang.

“Ada ASN pelayan masyarakat. Namun ucapan dan sikap dan tindakannya sudah kurang ajar. Kalau ngomong kadang kurang enak. Akhirnya pedagang munjuk. Saya mohon segera dipindah, jangan berkelanjutan,” pungkasnya.
Wali Kota Dedy Yon Supriyono mengatakan, pihaknya menampung aspirasi para pedagang.

Disampaikannya, memang seharusnya Perda disosialisasikan terlebih dahulu sebelum diterapkan sehingga pedagang tidak kaget.

“Memang seharusnya disosialisasikan dahulu. Misal tiga bulan agar pedagang tidak kaget. Ini hanya teknis dan mis komunikasi. Yang terpening diharapkan ada solusi terbaik,” ucap Dedy.
Meski demikian, ia meminta agar Perda tetap dijalankan. Di sisi lain, ia juga meminta pedagang tertib dalam membayar tunggakan retribusi/sewa.

“Tunggakan yang belum agar diselesaikan juga yang bulan sebelumnya. Nanti kalau bisa dibebaskan ya dibebaskan, kalau ada keringanan ya diringankan,” kata dia.

Sementara terkait oknum ASN yang bersikap kurang bijak, dirinya mengaku akan menegurnya. “Atas nama Pemkot barangkali ada kekeliruan ASN yang dipandang kurang tepat, saya mohon maaf. Yang jelas akan saya tegur agar tindakan dan ucapannya dijaga dan berhati-hati,” pungkasnya. (Setyadi/Red4)

BERITA LAINNYA