Take a fresh look at your lifestyle.

Pasar Dikhawatirkan Jadi Klaster Penularan Covid-19

115

SLAWI- Pasar tradisional menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tegal di masa pandemi Covid-19. Masih  banyak  warga tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan di tempat umum ini, sehingga dikhawatirkan akan menciptakan klaster baru dan menjadi episentrum penularan Covid-19.

Kekhawatiran ini juga selaras dengan hasil jajak pendapat Humas Pemkab Tegal. Sebanyak 25,4 persen dari 447 responden jajak pendapat menilai, pasar menjadi tempat berisiko paling tinggi terjadinya penularan korona.

Sementara itu, 15,5 persen responden memilih rumah sakit sebagai tempat berisiko tertinggi kedua, disusul tempat hiburan seperti arena permainan ketangkasan dengan 14,5 persen responden.

Bahkan, 48,8 persen responden menilai tingkat kedisiplinan terendah dalam menerapkan protokol kesehatan ada di lingkungan pasar.

Hasil survei tersebut, ditindaklanjuti Bupati Tegal Umi Azizah dan Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tegal dengan melakukan giat operasi penegakan disiplin penerapan protokol kesehatan di sejumlah pasar tradisional, Senin (10/8) pagi.

Dalam operasi tersebut, Umi mendapati banyak terjadi pelanggaran, terutama pedagang dan warga pembeli yang tidak mengenakan masker.

“Mereka yang kedapatan melanggar langsung kita kenai sanksi hukuman disiplin secara terukur,” kata Umi.

Sanksi hukuman disiplin tersebut telah diatur dalam Peraturan Bupati Tegal Nomor 35 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penularan Covid-19 di Kabupaten Tegal. Sanksinya mulai dari yang terendah adalah teguran lisan, menyanyikan lagu nasional atau melafalkan sila Pancasila hingga sanksi sosial membersihkan lingkungan sekitar.

Alih-alih melaksanakan sanksi membersihkan lingkungan pasar, banyak pelanggar yang dijatuhi sanksi tersebut lebih memilih push up. Menurut merekam hukuman fisik itu lebih ringan , mudah dan cepat.

“Pada giat operasi kali ini, pelanggaran protokol kesehatan lebih didominasi pengunjung pasar. Sementara pedagang sudah lebih disiplin mengikuti aturan yang ada, meski masih juga kita jumpai pedagang yang tidak mengenakan maskernya, padahal ada tapi hanya dikalungkan,” kata Umi.

Tak hanya masuk los di dalam pasar, melalui pengeras suara, Umi mengingatkan para pedagang dan pengunjung agar menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain dengan lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan di  pasar.

Menurutnya, jumlah pasien konfirmasi di Kabupaten Tegal masih terus bertambah. Umi pun tidak menghendaki interaksi di lingkungan pasar berkembang menjadi klaster penularan baru.

“Di pasar ini banyak sekali orang yang datang dari berbagai latar belakang dan domisili bertemu. Ratusan bahkan ribuan orang bisa tumplek blek di sini dalam sehari. Kita pun tidak pernah tahu kondisi kesehatannya. Selain harus dilakukan pengetesan, langkah pencegahan lainnya adalah mengubah perilaku warga pasar secepatnya, seperti mengenakan masker dan mencuci tangan,”sebut Umi,

Sementara untuk menjaga jarak, lanjut Umi, dirasakan  cukup berat. Tapi, setidaknya,  para pedagang atau yang berbelanja bisa mematuhi aturan dan memahami cara mencegahn agar tidak tertular virus korona.

“Caranya dengan menyampaikan informasi tentang Covid-19 ini secara terus-menerus lewat berbagai media komunikasi yang memungkinkan. Pada gilirannya nanti, mereka akan sadar akan kewajibannya melindungi diri sendiri dan orang lain,” kata Umi saat meninjau Pasar Pepedan.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Tegal Suspriyanti mengatakan, pihaknya melalui jejaring UPTD di masing-masing pasar terus menyampaikan pesan protokol kesehatan.

Di awal pandemi, pihaknya sudah membagikan masker kain kepada para pedagang maupun pengunjng yang tidak mengenakan masker. Selain itu, menyiapkan sarana cuci tangan di pintu masuk pasar.

Suspriyanti menyebutkan, pada awalnya ada petugas yang mengarahkan siapa saja yang masuk dan keluar pasar untuk mencuci tangan dan dicek suhu badannya. Tapi, karena jumlah personilnya  terbatas, disisi lain tanggung jawab mengelola pasar juga banyak, maka pendekatan yang dilakukan secara persuasif dan personal saat bertemu pedagang maupun pengunjung. (Sari/Red-06)

BERITA LAINNYA