Take a fresh look at your lifestyle.

Wow, SMK Bhakti Praja Adiwerna Rakit Sepeda Motor Listrik dari Bahan Bekas

SLAWI,smpantura.com, Kreativitas  siswa dan guru SMK Bhakti Praja Adiwerna Kabupaten Tegal patut diacungi jempol. Memanfaatkan barang bekas, mereka dapat membuat sepeda motor listrik “Scootic Lithium”.

Bahan baku sepeda motor ini semuanya dari bahan bekas atau barang rongsokan. Mulai kerangka, ban, velg racing hingga baterai lithium yang digunakan sebagai sumber energi.

“Untuk rangka kita peroleh dari rongsokan yaitu sepeda listrik yang berupa rongsok, Kemudian kami cek dinamonya kemudian kita cat ulang, las ulang, penguatan titik-titiknya, sehingga menjadi seperti itu,”jelas Khoirul Rohman, pengampu mata pelajaran produk kreatif kewirausahaan (PKKW) SMK Bhakti Praja Adiwerna, Rabu (9/2).

Pemakaian baterai lithium bekas, kata karena pihaknya tergugah untuk menjaga lingkungan dari pencemaran logam berat yang terkandung dalam baterai tersebut.

“Baterai lithium ini kalau di alam susah sekali diurai oleh tanah, mengakibatkan pencemaran tanah karena di dalamnya mengandung zat kimia. Makanya kita manfaatkan ulang , kita pilih yang masih bagus dan masih mampu menahan sampai 100 kali charger,”terangnya.

Sepeda motor listrik ini mampu menahan beban maksimal 80 kilogram, hampir menyamai sepeda motor listrik buatan pabrik yang mampu menahan beban hingga 100 kilogram.

Kendaraan ini dapat dipacu dengan kecepatan 30 Km/jam. Durasi pemakaian, memang masih sangat singkat, yakni 15 menit. Tapi, kata Khoirul, durasi pemakaian bisa ditambah dengan menambah baterai yang dirangkai pararel. Untuk mengisi energi cukup mengggunakan charger laptop selama 2 jam.

Khoirul menuturkan, baterai yang digunakan sebanyak 75 buah yang dirangkai dalam lima blok. Prototype sepeda motor tersebut menggunakan baterai lithium seri 18650, bekas baterai laptop dan power bank.

Kepala SMK Bhakti Praja Adiwerna Erfan Suparmono mengatakan, pembuatan prototype sepeda motor listrik ini sekitar dua bulan dari Desember hingga Januari. Perakitan dilakukan oleh siswa dibantu guru pembimbing.

“Yang membedakan sepeda motor ini dengan produk pasaran, kami menggunakan bahan bekas. Seluruhnya berupa limbah yang coba kita manfaatkan. Tujuannya menggerakan siswa untuk berinovasi memanfaatkan bahan bekas . Alhamdulillah sudah bisa,”terang Erfan didampingi Kepala Program Studi Teknik Bisnis dan Sepeda Motor (TBSM) Wahyu Cahyo Nugroho.

Erfan menyebutkan, pihaknya siap menerima pesanan dari masyarakat. Dan hal itu dibuktikan dengan menerima pesanan dari Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Tegal Suspriyanti yang langsung memesan satu unit scootic lithium untuk dipamerkan.

Untuk membuat prototype scootic lithium ini, sekolah menghabiskan biaya Rp 3,9 juta untuk operasional dan pembelian bahan baku.

MENCOBA: Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jateng Wilayah XII Sulikin mencoba menaiki sepeda motor listrik “Scootic Lithium” hasil rakitan siswa SMK Bhakti Praja Adiwerna Kabupaten Tegal , Rabu (9/2).

 

Launching scootic lithium yang dilakukan bersama dengan grand opening minimarket dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jateng Wilayah XII Sulikin, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Bhakti Praja Tegal Suhartono dan jajarannya serta Ketua Musyawarah Kerja  Kepala  Sekolah (MKKS) SMK Imron Effendi.

Saat meninjau bengkel TBSM dan melihat langsung prototype scootic lithium tersebut, Sulikin langsung menjajalnya  berkeliling lapangan sekolah. “ Wah gak ada suaranya, alus banget ini, top, top, top,”ujar Sulikin.

Tak mau kalah, Kepala Dinas Koperasi,UKM dan Perdagangan Suspriyanti dan Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Bhakti Praja Tegal Suhartono serta Kepala SMK Bhakti Praja Adiwerna Erfan Suparmono juga turut menjajalnya.

Setelah menjajal scootic lithium, Sulikin menyatakan, untuk menembus pasar produk rakitan tersebut perlu diperbaiki kemasannya.Selain itu, perlu penyempurnaan di beberapa bagian dan membutuhkan kerjasama dengan pihak terkait.

Tak menutup kemugkinan produk tersebut diproduksi massal. Kepala sekolah diharap bisa menjalin kerjasama dengan dunia usaha dunia kerja (Dudika), karena bagaimanapun juga sekolah belum mempunyai modal banyak.

“ Yang jelas ini sudah menjadi cikal bakal inovasi karya anak-anak SMK. Kalau bisa dipromosikan kepada Dudika mungkin menjadi produk massal yang cukup bagus untuk anak-anak kita,”imbuh Sulikin. (T04-Red)

 

BERITA LAINNYA