Take a fresh look at your lifestyle.

Tujuh Kali Dioperasi, Putri Tetap Kesulitan Buang Air Besar

BARU kelas 1 SD, tetapi sudah dioperasi perutnya hingga tujuh kali, dan informasinya masih perlu dioperasi lagi, tetapi hingga sekarang belum dilakukan, sebab terkendala biaya. Itulah sekelumit perjalanan hidup Putri Nur Fadillah (6,5) yang sangat miris, Anak dari Rokilah (41) yang beralamat di Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana, Kota Tegal itu mempunyai kelainan pada saluran pembuangannya. Putri mengalami kesulitan untuk buang air besar sejak lahir, harus dibantu dengan obat agar lancar buang air besar.

“Sampai sekarang masih harus dibantu dengan obat apabila ingin buang air besar, sedangkan untuk membeli obat kadang kesulitan uang, sebab saya tidak bekerja. Saya ingin membawa Putri ke rumah sakit Kariadi di Semarang untuk berobat lagi, tapi biayanya tidak ada, khususnya untuk operasional selama disana,” ujar Rokilah, ibu Putri Nur Fadillah, saat ditemui di rumahnya di RT 1 RW 1, Kelurahan Kaligangsa, kemarin.

Dia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, bahwa Putri sakit Megacolon atau kesulitan buang air besar. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak lahir, bahkan sebelumnya perut Putri sempat membesar, sebab kotoran tidak bisa keluar. Namun berkat bantuan dari beberapa pihak, akhirnya Putri dioperasi hingga, sehingga perutnya kembali mengecil. Hingga sekarang sudah dilakukan operasi sebanyak tujuh kali, tetapi kondisi Putri belum normal seperti anak anak pada umumnya. Putri bisa buang air besar tetapi harus tetap menggunakan obat yang dimasukkan kesaluran pembuangnya, hal itu dilakukan hingga sekarang. Berdasarkan saran dari dokter, Putri harus dioperasi lagi di Semarang, tetapi terkendala biaya, akhirnya belum dioperasi sampai sekarang. Bahkan untuk membeli obat, pihaknya kadang mengalami kesulitan, sebab ketiadaan uang. Apabila tidak segera buang air besar, perut Putri kembali membesar, sehingga ada ketergantungan obat.

“Minimal satu minggu sekali harus membeli obat untuk Putri, harganya sekitar Rp 140 ribu, untuk beberapa kali pemakaian. Kadang saya kesulitan untuk membeli, sebab tidak ada penghasilan, karena saya tidak bisa bekerja, harus mengurus Putri, anak saya sering sakit,” imbuhnya.

Ia mengatakan, operasi hingga tujuh kali, beberapa kali dibantu pihak rumah sakit swasta di Tegal. Khusus untuk obat yang digunakan Putri tidak tercover di BPJS, sehingga harus membeli sendiri. Pihaknya ingin membawa anaknya berobat kembali ke Semarang, tetapi biaya operasionalnya tidak ada. Hutangnya sudah banyak untuk pengobatan Putri selama ini, pihaknya berharap ada bantuan dari pihak lain agar anaknya bisa berobat dan sembuh seperti anak lainnya. Terakhir di operasi sekitar bulan Februari tahun 2018 lalu, dan biaya untuk operasional selama di Semarang mencapai Rp 10 juta. (Joko Widodo/Red_03)

BERITA LAINNYA