Take a fresh look at your lifestyle.

Tukar Sampah dengan Emas, Cara Pemerintah Desa Penusupan Ajak Warga Kelola  Sampah

SLAWI,smpantura.com-Tidak selamanya sampah menjadi masalah bagi masyarakat. Bagi yang mau mengelolanya, sampah bisa menambah tabungan dan membawa manfaat bagi warga sekitar.

Seperti yang telah dinikmati oleh warga Desa Penusupan, Kecamatan Pangkah,Kabupaten Tegal. Dengan kemauan mengelola sampah, mereka bisa menabung bahkan mendapatkan sembako. Tak hanya itu, keinginan  untuk membeli logam mulia juga bisa diwujudkan berkat adanya program Tukar Sampah dengan Emas yang digulirkan Bank Sampah Bunga Berkah.

Tuti Marheni RT 02 RW 04 Desa Penusupan mengatakan, sekarang sampah di rumahnya tak langsung dibuang sia-sia,melainkan dipilah sesuai jenis sampah. Mulai dari kertasm botol plastik, karton. Setiap dua minggu sekali sampah yang terkumpuk disetorkan ke Bank Sampah Bunga Berkah Desa Penusupan.

“Biasanya setiap dua minggu sekali saya setor ke bank sampah. Sekali setor bisa satu Tossa, dapat uang Rp 42.000 sampai Rp 47.000.Alhamdulilah tabungan saya sudah Rp 260.000. Seharusnya saya dapat emas dua , tapi ini satu dulu,” tutur Heni sembari menunjukan logam mulai seberat 0, 1 gram yang didapatnya dari menukar sampah.

Ditemui pada acara Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang dipusatkan di Lapangan Desa Penusupan, Kamis (24/2), Heni mengungkapkan, aktivitas memilah sampah rumah tangga telah ia lakukan selama tiga bulan. Setiap dua minggu sekali, ia menyetor sampah yang telah dipilah ke bank sampah. Sampai saat ini dia sudah menyetor sampah sebanyak tujuh kali.

“Alhamdulillah sampah yang tadinya saya buang setiap hari, dengan adanya bank sampah sekarang saya pilah-pilah. Sekarang saya punya buku tabungan. Ini bukan hoaks. Betul-betul sampah bisa ditukar emas,”tuturnya.

Dengan manfaat yang ia peroleh, setiap mengikuti pertemuan warga seperti arisan RT atau RW, Heni selalu mengajak warga mulai memilah sampah.

Kepala Desa Penusupan Guntur Zagiat Yudiansyah mengatakan, sejak menjabat sebagai kepala desa Penusupan pada tahun 2020, dirinya mulai menggerakkan warga mengelola sampah. Bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dibuatlah Peraturan Desa (Perdes) tentang sampah.

“Kami menggandeng BUMDes untuk melakukan upaya pengelolaan sampah.Disamping pemerintah terkait, RT,RW, semua elemen kita gerakkan, kami sosialisasikan Perdes sampah.Ternyata masyarakat antusias sekali,”sebutnya.

Selain membuat bank sampah,  pihak desa juga menggalakkan  pembuatan lubang biopori, budidaya maggot dan penanaman pohon. Bahkan Desa Penusupan  sudah merintis membuat agrowisata di tanah kas desa seluas 5,7 hektar. Di lahan tersebut ditanami jambu kristal, jambu air Deli , mangga, kembang kencana dan bunga tabebuya.

Guntur menuturkan, Bank Sampah Bunga Berkah mulai aktif sejak tujuh bulan. Berbagai jenis sampah dipilah seperti besi, kardus, botol minuman ditampung untuk kemudian dijual ke pengepul. Setiap minggu sedikitnya dapat menghasilkan Rp 300.000.

Desa Penusupan sendiri memiliki 41 RT dan 9 RW, dan dihuni oleh 9.000 jiwa atau 2.000 kepala keluarga.

Dibanding kondisi tujuh bulan lalu, saat ini kondisi Desa Penusupan telah ada perbaikan. Warga mulai aktif memilah sampah dan melakukan penghijauan, termasuk mengumpulkan minyak jelantah untuk disedekahkan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal Muchtar Mawardi mengatakan Desa Penusupan patut jadi contoh bagi desa lain karena sudah ada gerak pengelolaan sampah dengan biopori ,komposting dan maggot. Selain itu penanaman pohon di sudut desa. Desa tersebut bahkan dicanangkan sebagai Desa Program Kampung Iklim (Proklim).

Bupati Tegal Umi Azizah dalam sambutannya pada acara HPSN tahun 2022 menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Tegal melalui program “Desa Merdeka Sampah” terus berupaya menangani produksi sampah rumah tangga dengan mengkosolidasikan kelompok masyarakat kecil mulai dari tingkat RT, RW, pedukuhan, hingga desa dalam satu entitas untuk mengelola sampahnya dengan baik dan benar. Tujuannya adalah meminimalisir sampah yang masuk ke TPA disamping menyerap manfaat ekonomi di dalamnya.

Selanjutnya, pelaksanaan Program Kampung Iklim atau ProKlim menjadi bagian dari langkah strategis berikutnya untuk membangun kolaborasi multi pihak dalam upaya pengendalian perubahan iklim berbasis masyarakat.

“Dan untuk Kabupaten Tegal sendiri, alhamdulillah komunitas warga pegiat Proklim di Dukuh Tere RW 04 Desa Tuwel, Kecamatan Bojong telah berhasil meraih predikat madya Desa Proklim tingkat Jawa Tengah,”sebutnya.

Kegiatan dan aksi nyata yang dilakukan warga di lokasi ProKlim tersebut kiranya bisa menjadi contoh nyata pelaksanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sekaligus dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pengurangan risiko bencana akibat perubahan iklim.(T04-Red)

BERITA LAINNYA