Take a fresh look at your lifestyle.

Tiga Kasus Pencabulan Terhadap Anak Dilakukan Guru Mengaji Hingga Ayah Kandung

SLAWI,smpantura.com- Sebanyak tiga kasus pelecehan seksual terhadap anak terungkap di Kabupaten Tegal. Seluruh pelaku bukanlah orang asing, melainkan orang yang sering ditemui oleh para korban.  Mulai guru mengaji, guru honorer hingga ayah kandung.

Tiga kasus pencabulan ini terungkap dilaporkan ke Satreskrim Polres Tegal kurun waktu Januari hingga Februari 2022 . Tiga pelaku sudah diamankan di Mapolres Tegal guna proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut.

Wakapolres Tegal Kompol Didi Dewantoro menyampaikan, tiga perkara yang berhasil diungkap yakni kasus pencabulan diantaranya dilakukan Munasik (53) seorang pengurus dan guru mengaji di Pondok Pesantren  Al Mukhih, Desa Begawat , Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal.

Peristiwa yang menimpa salah satu santriwati sebut saja Mawar (17) terjadi pada September 2021 lalu. Modus tersangka melampiaskan hasrat seksual pada santiwati yang memiliki paras cantik.

“Tersangka mengajak ngaji di luar jam yang ditentukan, sehingga dia bisa melakukan perbuatan cabul pada santrinya. Hasil pengembangan ada dua orang santriwati yang sudah pernah dilecehkan oleh tersangka,”terang Didi Dewantoro pada konferensi pers di Mapolres Tegal, Selasa (22/2).

Kasus kedua yakni dilakukan oleh guru honorer  SD bernama Tri Heri Priyadi (44) warga Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna. Pengungkapan kasus berawal 28 Januari 2022 korban sebut saja Bunga (12) diketahui menangis oleh orangtuanya. Setelah ditanya, Bunga  menceritakan bahwa pernah mendapat pelecehan seksual dari tersangka di bawah jalan tol di Adiwerna  pada tahun 2019 silam atau saat duduk di bangku kelas 4 SD.

“Modusnya, guru honorer ini mengajak les di luar jam sekolah. Kemudian korban dibujuk rayu agar melakukan kemauan tersangka, hingga korban dicabuli di bawah jembatan tol,”jelasnya.

Kasus lainnya yakni tindak pidana kekerasan seksual yang dilakukan ayah kandung pada anak laki-lakinya. Kasus ini dilaporkan pada 17 Februari 2022 oleh kakak korban.

Hasil penyelidikan, tersangka bernama Waryadi (50)  warga Desa Sidamulya, Kecamatan Warureja telah lebih dari lima kali melakukan pelecehan seksual pada anak laki-lakinya selama 2018 hingga 2022. Anak laki-laki yang saat ini  berusia 22 tahun ini kerap menerima ancaman kekerasan dari ayahnya.

“Kejadian berawal pada 26 Januari 2022 sekitar pukul 03.00 terjadi keributan antara tersangka dan korban, sehingga kakak kandung korban menanyakan sebabnya. Korban lalu menceritakan mulai usia 17 tahun mengalami pencabulan oleh ayah kandungnya . Tindakan itu  berlanjut berulang kali hingga kini berusia 22 tahun,”terang Didi Dewantoro didampingi Kasat Reskrim Polres Tegal AKP I Dewa Gede Ditya Khrisnanda.

Tersangka beralasan melakukan kekerasan seksual pada anak kandungnya karena tidak mendapat pemenuhan kebutuhan biologis dari istrinya, sehingga melampiaskan pada anaknya.

Para tersangka dikenakan pasal 76E, pasal 82 ayat (1), pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pelindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara serta ditambah sepertiga dari ancaman sebelumnya karena dilakukan oleh  guru , pengasuh/ tenaga pendidik dan orangtua.

Wakapolres Didi menambahkan, untuk mengembalikan kondisi psikologis anak yang menjadi korban kekerasan seksual, Polres Tegal bersama PPT Kabupaten Tegal terkait melakukan pendampingan agar korban bisa kembali normal seperti biasa.

“Untuk korban kekerasan seksual yang dilakukan ayah kandung akan dilakukan pendampingan psikologis agar ke depan tidak menjadi pelaku,”tutur Didi. (T04-Red)

 

 

 

 

Kasat Reskrim Polres Tegal meng

 

 

BERITA LAINNYA