Take a fresh look at your lifestyle.

Warga Rela Berdesakan Demi Dapatkan Potongan Lopis Raksasa

PEKALONGAN, smpantura.com-Ratusan warga dari Kota Pekalongan dan sekitarnya rela berdesak-desakan untuk mendapatkan potongan lopis raksasa pada perayaan syawalan di ruang publik Kampung Batik Krapyak Kidul Gang 8, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Senin (9/5).

Pada syawalan tahun ini, Remaja Mushala Darunna’im Gang 8 Krapyak menyuguhkan lopis setinggi 222 centimeter dengan berat 1.820 kilogram. Selain warga Gang 8 Krapyak, warga Gang 1 Krapyak juga menyajikan lopis raksasa dengan berat 2.300 kilogram dan tinggi 160 centimeter.

Dengan beragam tempat seperti plastik, daun, dan kotak bekas tempat jajanan, warga terus mengulurkan tangan ke arah panitia yang memotong lopis di atas panggung di Gang 8. “Alhamdulillah, setelah didorong-dorong, akhirnya saya dapat lopis meskipun sedikit,” kata Istikharoh (45) dengan riang.

Warga Kelurahan Buaran Kradenan, Kecamatan Pekalongan Selatan itu mengaku ingin ngalap berkah dengan mendapatkan lopis yang dibagikan. Sehinga ia rela berdesak-desakan dengan warga lainnya. “Kalau nggak rebutan, nggak dapat,” sambungnya.

Senada disampaikan Muslimin (35), warga Padukuhankraton, Kecamatan Pekalongan Utara. Ia juga ikut berdesakan untuk mendapatkan potongan lopis yang akan diberikan kepada ibunya. “Ibu saya percaya lopis ini membawa berkah,” kata dia.

Namun, sebagian warga yang datang pada acara itu hanya ingin sekedar melihat lopis raksasa. Rodhi’in (50), warga Desa Delegtukang, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan selalu datang pada acara pemotongan lopis di Krapyak. “Saya hanya ingin melihat perbedaan lopis sekarang dengan sebelumnya,” terangnya.

Ulama Kelurahan Krapyak, KH Khorussabaqokoh mengingatkan, tradisi pemotongan lopis raksasa maknanya hanya satu, yakni ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah. “Mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam dan mempererat tali persaudaraan sesama manusia,” paparnya.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid berharap festival lopis raksasa terus dijaga dan dipelihara bersama sebagai tradisi dan budaya turun temurun.

“Lopis ini memiliki makna filosofis, merekatkan. Mudah-mudahan kita bisa memelihara tradisi ini untuk mempererat tali silaturahim antarmasyarakat Krapyak dengan sekitarnya, yang diidentikkan dengan sifat lopis yang lengket,” harapnya. (P07-red)

BERITA LAINNYA