Take a fresh look at your lifestyle.

23 Balon Udara Diterbangkan Liar, Masyarakat Diimbau Taati Regulasi

PEKALONGAN, smpantura.com- AirNav Indonesia mengimbau masyarakat untuk menaati regulasi tentang balon udara karena hingga saat ini masih banyak masyarakat yang menerbangkan balon udara liar. Selama periode syawal, 2 Mei hingga 7 Mei, AirNav Indonesia menerima 23 laporan oleh pilot  (PIREP) atau pilot report atas adanya balon udara liar yang terbang bebas di sejumlah titik ruang udara dengan ketinggian berkisar antara 7,000 – 35,000 kaki di atas permukaan air laut.

“Sampai sejauh ini, balon liar yang diterbangkan masih banyak,” kata Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Bambang Rianto pada kegiatan Balloon Atraction Pekalongan di Lapangan Mataram, Kota Pekalongan, Minggu (8/5).

Dijelaskan dia, balon udara liar yang terbang bebas di sejumlah titik ruang udara tersebut didominasi di atas pulau Jawa, dengan ketinggian berkisar antara 7,000 – 35,000 kaki di atas permukaan air laut. Laporan tersebut didapatkan dari lima cabang AirNav. Yakni Cabang Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) lima laporan), Cabang Semarang tiga laporan) dan Cabang Solo satu laporan. Selain itu, Cabang Yogyakarta tujuh laporan dan Denpasar satu laporan.

Namun, menurut Bambang, jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan tahun 2017-2018 yang mencapai 70-an. “Kami berharap, ke depan zero balon udara yang dilaporkan oleh pilot,” sambungnya.

Mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara Pada Kegiatan Budaya Masyarakat, setiap balon diterbangkan dengan cara ditambatkan. Karena itu, AirNav mengapresiasi kegiatan festival balon udara tertambat yang diinisiasi oleh komunitas balon udara di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

“Antara balon udara dan keselamatan harus disinergikan. Salah satunya melalui acara ini. Semangat mereka positif karena tidak hanya memperhatikan kepentingan untuk bersenang-senang dengan hobi dan tradisi, namun juga mengedepankan aspek keselamatan bersama,” paparnya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, menerbangkan balon udara liar memiliki potensi bahaya, tidak hanya bagi operasional penerbangan yang memiliki hak penggunaan ruang udara. Namun juga bagi masyarakat sekitar yang nantinya dapat menjadi tempat mendaratnya balon udara tersebut.

Bagi penerbangan,  potensi bahaya terburuk dari balon udara liar  adalah terjadinya tabrakan antara balon dengan pesawat di udara. Hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi, karena pergerakan balon udara liar tidak dapat diprediksi, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak cerah.

“Balon udara yang bertemu fisik dengan pesawat terbang dapat mengakibatkan terjadinya sejumlah hal, di antaranya menutupi kaca kokpit pesawat sehingga mengganggu pandangan pilot, masuk ke dalam mesin pesawat sehingga menyebabkan gangguan mesin, hingga tersangkut pada instrumen pesawat yang digunakan pilot untuk mendapatkan sejumlah informasi performa pesawat, seperti kecepatan, ketinggian, dan arah terbang,” papanya.

Ia berharap, kegiatan festival balon udara yang ditambatkan dapat  menjadi  daya  tarik  pariwisata  daerah yang  akan  berdampak  terhadap  perekonomian masyarakat. “Kami hanya imbau satu hal, selalu patuhi aturannya, sehingga budaya masyarakat lestari, keselamatan penerbangan terlindungi,” pesannya. (P07)

BERITA LAINNYA