Take a fresh look at your lifestyle.

Dari Olos, Bapak Asal Talang Ini Berhasil Kuliahkan Anaknya

SLAWI, smpantura.com – Semangat usaha bapak yang satu ini pantas diacungi jempol. Meski hanya sebatas usaha UMKM berupa jajanan ringan, tetapi berkat keuletannya, Surip Raharjo (52), warga Desa Pegirikan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, mampu menghidupi keluargannya. Bahkan, sampai berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus bangku kuliah.

Surip, bersama istrinya Yani (43), setiap hari berjualan Olos di depan rumahnya, di Desa Pegirikan Kecamatan Talang. Dalam menjalani usahan berjualan makanan khas Jatirawa ini, ternyata tak seindah yang dibayangkan. Pasang surut dialami Surip agar usahanya tetap bisa berjalan. Terlebih saat pandemi Covid-19 menghampiri Desa Pegirikan, usaha Surip pun harus tidur lama.

Surip menceritakan awal dirinya memulai usaha berjualan Olos hingga bisa seperti sekarang. Ia mengaku, usaha yang digelutinya itu mulanya hanya sebatas iseng membuat Olos untuk dimakan keluarga. Namun ada ada tetangga main ke rumah, dan mencicipinya. Ternyata, tertarik dengan olos buatannya. Dari situlah ide untuk usaha berjualan Olos muncul. “Awalnya cuma iseng jualan Olos, tetapi setelah beberapa lama kemudian banyak peminatnya,” tutur Surip ditemui di warungnya, kemarin.

Pertama berjualan, kata dia, hanya tetangga yang beli. Kemudian, tetangganya itu membawa teman dan akhirnya semakin ke sini semakin banyak yang datang membeli. lanjutnya. “Ya pembeli datang karena mendengar dari mulut ke mulut. Dari tetangga saya membawa temannya, kemudiam teman tetangga itu bawa teman lagi, hingga ramai seperti sekarang,” cerita Surip.

Usaha Olos yang digeluti Surip dan istrinya ini, terbilang cukup unik. Sebab, biasanya pedagang Olos berjualan dengan menggunakan gerobak. Namun lain halnya dengan Surip, yang biasa berjualan Olos hanya di depan rumahnya. Meski begitu yang membuat Olos buatannya tetap memiliki banyak peminat, karena cita rasa yang gurih dan pedas. Selain itu, bentuknya pun unik, lebih kecil dan teksturnya lebih kering serta renyah dari Olos pada umumnya. Olos buatan Surip dan Yani ini, dibanderol dengan harga Rp 5.000 per bungkusnya.

Meski banyak diminati, Surip mengaku, tidak ada resep yang spesial dari Olos buatannya. Bahan pembuatannya sama seperti Olos pada umumnya. Yaitu, terbuat dari tepung kanji sebagai bahan dasarnya. Sedangkan untuk isiannya menggunakan sayur kol, dan cabai rawit. “Kalau cara buatnya kita masih manual menggunakan tangan, di bentuk bulat kemudian isinya di tambahkan sayur sama cabai,” tandasnya.

Surip sudah berjualan sejak 2009 lalu. Setiap harinya bisa menghabiskan sampai 100 kilogram bahan baku. Namun kondisinya terpuruk semenjak pandemi Covid-19. Ya, omset penjualannya turun mencapai 50 persen. “Sangat terdampak pandemi, biasanya sebelum pandemi bisa sampai 100 kilogram, tapi semenjak pandemi ini paling banyak hanya 50 kilogram setiap harinya,” ujar Surip.

Meski begitu, Surip tetap bersyukur, karena berkat penjualan Olos mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan sanggup membiayai salah satu anaknya hingga lulus kuliah. “Iya, hasil berjualan olos salah satunya untuk sekolah anak. Alhamdulillah, satu anak saya sudah lulus kuliah,” ucapnya. (Yusdi.pkl-red)

BERITA LAINNYA