Take a fresh look at your lifestyle.

Pandemi Covid-19, Fikri Faqih : Pemanfaatan E-Commerce, Database dan Keterhubungan Perlu untuk Bertahan

131

SLAWI-Pandemi  Covid-19 memberikan tantangan besar bagi banyak pihak, tak terkecuali pelaku industri kreatif dan pariwisata. Bahkan, pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terpuruk dan terimbas Covid-19.

“Meskipun secara bertahap era new normal dimulai, sektor ini perlu waktu yang cukup lama untuk kembali pulih seperti sedia kala,” terang Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih pada diskusi daring  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Menyambut New Normal, Jumat  (5/6).

Dalam diskusi tersebut, Staf Ahli Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ari Juliano Gema, hadir sebagai pembicara . Menurut Ari, sektor pariwisat terdampak begitu keras oleh pandemi Covid-19. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga bulan Mei 2020, terjadi penurunan jumlah wisatawan mancanegara hingga 87% di sektor pariwisata.

“Dari wisatawan mancanegara salah satu negara saja, kita bisa kehilangan devisa Rp 40 triliun. Belum wisman negara lain. Jadi bisa dibayangkan ya, potensi pendapatan kita yang hilang besar sekali,” paparnya.

Sementara itu, Fikri mendorong agar seluruh masyarakat yang terdampak, termasuk pelaku pariwisata agar dapat bertahan di situasi yang serba sulit ini dengan melakukan apapun yang dapat menghasilkan secara finansial.

Ia menyebutkan, saat ini perdagangan elektronik (e-commerce) adalah salah satu yang dapat bertahan dan mengalami peningkatan seiring dengan imbauan physical distancing dan melakukan segala aktivitas kegiatan dari rumah. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat  agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk keberlanjutan ekonomi tiap-tiap individu dan keluarganya.

“Para pelaku industri kreatif bisa memanfaatkan  e-commerce untuk memasarkan hasil produksi atau karyanya, sehingga bisa menjangkau ke tempat yang lebih jauh. Misal dari daerah ke ibukota, atau bahkan ke luar negeri,” tambah anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Untuk itu dibutuhkan, database pelaku industri yang lengkap dan juga keterhubungan. Ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh hasil optimal.

“Data harus kuat. Ini tugas pemerintah. Kalau datanya kuat, pemerintah bisa menghubungkan antar berbagai pihak sehingga terjadi kerjasama ataupun transaksi,”imbuhnya.

Menurutnya, tidak hanya pemerintah yang bisa melakukan tugas menghubungkan. Ia menyontohkan, ada beberapa inisiatif  dari kelompok kepemudaan yang secara tidak langsung bergerak di bidang pertanian.

Kelompok tersebut menjembatani petani-petani di desa-desa agar hasil  taninya dapat menyuplai  kebutuhan di perkotaan.

“Ini contoh yang bagus, bagaimana di tengah kondisi sulit sekarang ini kita bergandengan tangan untuk saling membantu,” pungkasnya. (Sari/Red-06)

BERITA LAINNYA