Take a fresh look at your lifestyle.

Overload, TPA Penujah Harus Dibenahi

63

SLAWI,smpantura.com – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Penujah, Kecamatan Kedungbateng, Kabupaten Tegal telah melebihi kapasitas (overload). Hal itu harus segera ditangani dengan melakukan perluasan kawasan TPA. Selain itu, perlengkapan lainnya juga segera ditambah.

“Harusnya sudah mulai dibenahi sebelum Kabupaten Tegal jadi darurat sampah,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni, Senin (29/3).

Dikatakan, luas lahan TPA Penujah sekitar 19 hektare sudah tidak mampu menampung sampah dari masyarakat. Bahkan, lahan warga sudah ada yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Jika hal itu dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan merembet ke lahan lainnya.

“Ini akan jadi masalah nantinya 10-20 tahun kedepan, jika tidak segera dibenahi dari sekarang,” ujar politisi Partai Golkar itu.

Menurut dia, program Bank Sampah yang digejot Pemkab Tegal dinilai hanya sebagian kecil upaya untuk mengurangi sampah. Pasalnya, tiap hari sampah yang dibuang di Penujah mencapai 480 ton. Oleh karena itu, pihaknya meminta untuk melakukan pembenahan kepada hal yang wajib, yakni perluasan TPA Penujah.

“Bank Sampah mungkin mengelola tidak sampai 1 persen dari sampah yang dikirim ke TPA Penujah. Makanya, wajibnya harus didahulukan,” tegas pria yang akrab disapa Jeni itu.

Lebih lanjut dikatakan, perluasan TPA Penujah minimal sama luasanya dengan luas lahan yang ada di TPA tersebut. Jika ketersediaan tanah tidak mencukupi di lokasi TPA Penujah, maka bisa membuka lahan di titik lainnya. Tapi, diminta tetap di Penujah yang jauh dari masyarakat. Masyarakat yang melintas di lokasi itu juga sudah familiar dengan bau sampah.

“Kalau di lokasi lainnya pasti timbul konflik,” ucapnya.

Selain perluasan TPA Penujah, lanjut dia, perlengkapan penunjang lainnya juga harus dibenahi. Hingga kini, Pemkab memiliki 30 truk sampah, namun 7 diantaranya rusak. Jumlah itu dinilai belum mampu menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Tegal.

“Masih banyak desa yang minta untuk sampah diambil truk sampah. Tapi, karena armada terbatas sehingga belum bisa menjangkaunya,” terangnya.

Ditambahkan, alat bulldozer yang dimiliki TPA Penujah baru 3 unit, tapi 2 unit diantaranya rusak. Hingga kini, belum ada pengadaan kembali alat itu. Padahal, DPRD sudah membahas kebutuhan di TPA Penujah dari mulai perluasan lahan, truk pengangkuat sampah hingga alat bulldozer pada lima tahun lalu. Sementara itu, pendapatan sampah juga telah dinaikan 1000 persen dari Rp 200 juta menjadi Rp 2 miliar.

“Harusnya pendapatan bisa dikembalikan lagi untuk memaksimalkan pengelolaan sampah,” pungkasnya.

(T05-Red)

BERITA LAINNYA