Take a fresh look at your lifestyle.

Nasib Warga Eks Lahan PT KAI Semakin Tak Jelas

177

TEGAL – Nasib puluhan kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di lahan eks PT KAI di RW VII Kelurahan Panggung Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal kini semakin terkatung-katun. Sebab, setelah mereka tergusur kebingungan untuk mendapatkan rumah tempat tinggal. Bahkan, adanya wacana untuk pindah ke rumah subsidi melalui program KPR juga tak kunjung ada kepastian karena Pemkot belum mengeluarkan jaminan dan pihak perbankan belum bisa merealisasikan KPR.

Hal itu terungkap saat sejumlah warga mengadu ke Komisi III DPRD, Senin (4/11). Salah seorang perwakilan warga, Permadi menyampaikan, sebagian warga yang awalnya mengajukan permohonan KPR hanya tersisa beberapa. Hal itu terjadi karena uang yang diterima dari PT KAI yang sebelumnya dipersiapkan untuk uang muka telah habis untuk membayar kontrakan. “Kami berharap sebelum masa kontrak habis sudah ada kepastian tentang KPR, sehingga uang ganti rugi dari PT KAI tidak habis untuk membayar kontrakan,” katanya.

Warga lain, Edy Makdiyanto menambahkan, dari jumlah warga sebanyak 32 orang yang awalnya akan mengajukan KPR, saat ini hanya tinggal 10 orang. Sedangkan yang lainnya, ada yang terpaksa menyewa rumah dan sebagian lagi tidak jelas tempat tinggalnya. “Kami meminta DPRD untuk bisa membantu mencarikan solusi yang terbaikm,” ujarnya.

Ketua Komisi III DPRD, Edy Suripno mengatakan, sebelum adanya pengosongan lahan, DPRD sudah memberikan saran kepada Pemkot untuk mengatasi dampak sosial dari pengosongan lahan milik PT KAI. Yakni, solusi pertama relokasi warga ke rusunawa, namun ternyata sudah penuh. Dengan demikian, solusi yang paling memungkinkan yakni KPR dengan Pemkot dalam hal ini Wali Kota Tegal sebagai penjaminnya. “Dari informasi pengembang perumahan sudah mengajukan kerjasama dengan bank, namun belum ada jaminan dari Pemkot Tegal, sehingga KPR belum bisa direalisasikan,” katanya.

Menurut dia, dengan kondisi tersebut dalam waktu dekat DPRD akan memanggil pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pihaknya menyayangkan Pemkot Tegal tidak segera hadir dalam persoalan tersebut, sehingga nasib warga terkatung-katung. “Adanya penggusuran akan berdampak sosial, khususnya menambah tuna wisma di Kota Tegal,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan anggota DPRD, Ahmad Satori. Dia menegaskan, seharusnya Pemkot bisa segera menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan demikian, bisa menekan agar dampak sosial tidak bertambah. “Kami meminta Pemkot serius menangani persoalan-persoalan ini dan mencarikan solusi yang terbaik bagi masyarakat,” tandasnya. (Wawan Hoed/Red1)

BERITA LAINNYA