Take a fresh look at your lifestyle.

Nasib Brebes Pasca Jalingkut

71

Oleh: Muamar Riza Pahlevi

TUJUAN pembangunan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) Brebes-Tegal adalah mengurai kemacetan yang terjadi di Kota Brebes maupun Kota Tegal. Di mana di waktu-waktu tertentu, seperti Lebaran, libur panjang terjadi antrean yang panjang. Bahkan di akhir pekan sekali pun, dipastikan jalanan di dua kota yang berjarak kurang lebih 12 km itu selalu padat. Apalagi jika kondisi jalan rusak dan berlubang akibat guyuran hujan, akan menambah kemacetan di jalur Pantura ini.

Hal ini tentu saja dikeluhkan para pengguna jalan maupun masyarakat pada umumnya. Apalagi jika di saat anak-anak berangkat dan pulang sekolah, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua. Hingga akhirnya pada tahun 2010 pun dibangun jalan sepanjang kurang lebih 17 km. Namun belum selesai digarap rekanan, pembangunan jalan yang diharapkan selesai 2012 itu terhenti dan mangkrak hingga 8 tahun.

Di sisi lain, pemerintah juga membangun jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya. Di Kabupaten Brebes pun ada tiga pintu tol, yakni Pejagan, Brebes Barat dan Brebes Timur. Peristiwa tragis pun sempat terjadi setelah tol itu difungsikan, yakni pada tahun 2016, tepatnya terjadi puncak arus mudik Lebaran 2016.
Peristiwa kemacetan parah itu pun dikenal dengan peristiwa Brexit. Di mana jalan tol trans Jawa itu baru selesai pada ruas Brebes-Pejagan. Sehingga pintu keluar dari arah Jakarta menumpuk di Brexit hingga puluhan kilometer. Bahkan dikabarkan ada beberapa warga yang meninggal akibat kelelahan selama kemacetan terjadi. Namun sekarang ini, jalan tol Trans Jawa telah selesai semua dari Jakarta hingga Surabaya. Sehingga Kota Brebes pun hanya dilewati begitu saja.

Pasca selesainya pembangunan jalan tol Trans Jawa tersebut, arus lalu lintas di Kota Brebes pun semakin lancar. Bus-bus AKAP dan kendaraan pribadi lebih banyak lewat jalan tol. Sedangkan sebagian truk masih ada yang melewati jalur pantura Brebes-Tegal. Kendaraan pribadi hanya sebagian kecil, itu pun karena memang tujuannya menuju Kota Brebes.

Bagaimana nasib Kota Brebes pasca pembangunan Jalingkut? Seperti diketahui, pembangunan Jalingkut dilanjutkan kembali pada tahun 2019 dan diharapkan selesai pada April 2021. Dan berdasarkan berita, bahwa PUPR akan menyerahkan pekerjaan Jalingkut itu pada bulan April yang akan datang.

Pasca jalan tol Trans Jawa selesai di bangun dan difungsikan, salah satu dampak yang paling terasa adalah para penjual oleh-oleh khas Brebes di sepanjang Pantura. Omzet para penjual itu dipastikan turun drastis. Paling tidak bisa dilihat berapa banyak kendaraan yang parkir untuk membeli oleh-oleh khas Brebes ini. Jika pada hari-hari libur terlihat cukup ramai, bahkan menimbulkan kemacetan di pusat oleh-oleh tersebut, kini terlihat sepi.

Dinas Perdagangan mungkin mempunyai data yang valid terkait dengan penurunan omzet itu. Lantas apa yang dilakukan mengantisipasi penurunan omzet tersebut. Mungkin sudah diberikan beberapa alternatif solusi untuk para pedagang oleh-oleh tersebut. Misalnya membangun outlet di rest area Banjaratma dan lainnya.
Bagaimana nasib Kota Brebes setelah Jalingkut beroperasi? Nasib Kota Brebes dipastikan akan menjadi kota yang lengang, untuk tidak menyebutnya kota mati! Tidak ada lagi hingar-bingar suara deru knalpot truk maupun bus AKAP. Hanya tinggal bus-bus milik pengusaha-pengusaha lokal, seperti Dewi Sri, Dedy Jaya, dan sebagian Sinar Jaya. Truk-truk pengangkut logistik pasti akan memilih melintasi Jalingkut. Begitu pula bus-bus AKAP, jika tidak melewati tol, maka akan memilih Jalingkut. Begitu pula dengan kendaraan-kendaraan pribadi, juga akan memilih Jalingkut untuk menyingkat waktu dan juga irit BBM.

Nasib-nasib pedagang oleh-oleh khas Brebes pasti akan lebih nelangsa lagi. Tidak ada lagi kendaraan yang mampir untuk membeli oleh-oleh. Para pedagang kaki lima (PKL) yang berada di alun-alun, hanya bisa memandangi dagangannya yang tak laku. Saat ini saja, ketika akses ke alun-alun ditutup, kendaraan dari arah Jakarta dipastikan tidak bisa mampir di alun-alun, walau hanya untuk sekedar isoma di situ. Begitu pula dengan kendaraan dari arah Semarang, juga cukup kesulitan untuk masuk ke alun-alun.
Pasca beroperasinya Jalingkut memang ada sisi positifnya. Selain jalanan menjadi agak sepi, berarti semakin rendah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Apalagi di waktu anak-anak berangkat dan pulang sekolah, juga tidak terlalu dikhawatirkan karena kepadatan lalu lintas. Di pusat oleh-oleh pun, jika banyak kendaraan yang parkir untuk membeli, tidak akan banyak mengganggu lalu lintas, karena jalanan lengang, tidak ada lagi truk dan bus.

Kondisi kota Brebes yang lengang ini akan bertahan selama beberapa tahun ke depan. Apalagi jika pemerintah kabupaten tidak melakukan langkah-langkah cepat dan mengena. Langkah-langkah cepat ini untuk mengantisipasi ekonomi masyarakat kecil, yang sangat berpengaruh dari kunjungan orang luar daerah ke Kota Brebes. Kemudian langkah-langkah yang mengena itu, bagaimana ada kebijakan yang strategis dan menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.

Sekedar gambaran saja, saat ini masyarakat Brebes ketika hendak berbelanja, maupun berwisata dan kuliner, pasti akan menuju kota tetangga. Maka ketika kondisi Kota Brebes yang lengang, akan semakin lengang. Masyarakat lebih tertarik ke kota tetangga, hanya hanya ditempuh kurang lebih 10 menit.

Saya yakin pemerintah telah mempunyai konsep yang hebat untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Karena ada bupati, wakil bupati yang dibantu tenaga-tenaga yang hebat pula di OPD yang ada. Begitu juga ide-ide dari wakil-wakil rakyat di DPRD yang kreatif dan inovatif. Pasti bisa mengatasi itu, meski entah kapan.
Belum lagi para akademisi yang mulai banyak bermunculan di Kota Brebes. Tidak hanya ada di Brebes, di luar Brebes pun banyak. Bahkan ada forum guru besar, yang tentu pemikirannya sangat besar. Tidak hanya memikirkan Brebes sebagai kampungnya, tapi sudah memikirkan Indonesia sebagai tanah airnya yang besar dan kaya raya.

Jadi dengan kelengangan Kota Brebes, bagi saya yang suka nongkrong sambil moci atau ngopi, akan semakin asyik tanpa terganggu hingar-bingar jalan raya Pantura. Moci dan ngopi, sambil menghayal berada di Kota Brebes yang asyik dan menyenangkan. (*)

BERITA LAINNYA