Take a fresh look at your lifestyle.

Musim Baratan, Penjualan Solar Turun Drastis

200

PEMALANG – Penjualan solar di Stasiun Pengisian Solar di Tanjungsari, Kabupaten Pemalang sejak awal bulan Januari hingga sekarang mengalami penurunan drastis. Pada saat kondisi laut normal penjualan solar bisa mencapai 6.000 liter per hari, tetapi pada saat musim baratan seperti sekarang penjualannya kurang d0ari 1.000 liter per hari.

“Sejak akhir bulan Desember 2019 atau awal Januari 2020, penjualan solar terus mengalami penurunan, seiring dengan kondisi laut ekstrim. Sebagian besar nelayan tidak melaut, bahkan kapal yang melaut dalam jangka waktu agak lama saat ini tidak ada yang berangkat,” ujar Ahmad Tibrani, Kepala SPDN Tanjungsari, Pemalang, kemarin.

Ia mengatakan, penjualan solar mengalami kenaikan maupun penurunan sebenarnya sudah hal biasa. Namun untuk penurunan sekarang ini sangat drastis, sebab jumlah nelayan yang melaut sedikit. Bahkan dalam satu hari tidak lebih dari lima kapal yang melaut, kadang tidak ada sama sekali yang melaut. Penjualan solar di Tanjungsari Pemalang didominasi oleh kapal dengan ukuran sedang hingga besar. Untuk kapal kecil atau perahu jumlahnyan sedikit, sehingga apabila mereka berangkat penjualan solar tidak banyak. Terkait dengan pasokan solar di SPDN Tanjungsari Pemalang dari Pertamina mencapai 160 ribu Kilo liter per bulan. Jumlah pasokan tersebut mampu mencukupi kebutuhan solar nelayan untuk satu bulan, sehingga tidak pernah mengalami kelangkaan. Apabila kondisi cuaca seperti sekarang ini kuota tersebut tidak bisa habis, sebab jumlah nelayan yang melaut sedikit.

“Sebagian besar nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjungsari, Pemalang atau lebih dari 90 persen tidak berani melaut sebab sedang gelombang besar dan angin kencang. Bahkan saat ini bisa dianggap sebagai musim paceklik, sebab kondisi laut kurang bersahabat apabila nelayan nekat mencari ikan,” ujar Rohadi, salah seorang nelayan di TPI Tanjungsari, Pemalang, dalam berita sebelumnya.

Ia mengatakan, nelayan di Tanjungsari sebagian besar tidak melaut sejak awal bulan Januari hingga sekarang. Apabila ada yang melaut, hanya di pinggir pantai saat siang hari, sebab mereka tidak berani ke tengah. Waktu melaut mereka rata rata pendek, antara setengah hari hingga satu hari. Untuk kapal yang biasa melaut antara tiga hari hingga satu minggu, semuanya memilih tidak melaut sebab kondisi cuaca di laut berbahaya. Saat ini sudah masuk musim baratan sehingga anginnya kencang dan gelombang tinggi, apabila nekat melaut ke tengah diperkirakan hasil tangkapannya tidak maksimal. Bahkan berdasarkan informasi dari nelayan yang nekat melaut, hasil tangkapnnya minim, tidak bisa menutup biaya operasionalnya.(H77/Red_03)

BERITA LAINNYA