Take a fresh look at your lifestyle.

New Kota Tegal dan Reli Moge yang Menghibur

Oleh A. Zaini Bisri (Jurnalis Senior)

834

KOTA Tegal sedang ditata agar menjadi kota yang indah. Kawasan alun-alun sudah hampir selesai diperbaiki. Taman Pancasila, depan stasiun kereta api, sudah bisa dinikmati pengunjung. Jalan Pancasila sudah dilebarkan selebar-lebarnya. Tinggal alun-alun dengan bangunan mirip arena gladiator (koloseum) di atasnya yang belum dibuka. Tapi foto-foto dan videonya sudah viral.

Zaini Bisri
Zaini Bisri

Penataan kota masih akan berlanjut loh. Jalan Ahmad Yani akan dijadikan “Malioboro”-nya Tegal. Pusat kuliner yang memanjakan perut. Konon, penataan akan berlanjut ke Jalan Diponegoro dan “Gili Tugel”. Pendeknya, Kota Tegal sedang bersolek biar enak disawang dan nyaman disinggahi.

Tujuan akhirnya, begitu kata para begawan kota, agar Kota Tegal maju dan ekonominya berkembang. Soal warga kota akan bahagia atau tidak, itu wallahu a’lam. Setahu saya, slogannya belum diganti. Masih “Tegal Laka-Laka”. Beda dari slogan DKI Jakarta di masa Gubernur Anies Baswedan sekarang, yang bunyinya “Maju Kotanya, Bahagia Warganya”.

Karena itu, kalau dengan penataan itu kelak warga Kota Tegal kurang bahagia, jangan salahkan slogannya. Tapi salahkan Anies kenapa tidak meminjamkan slogannya untuk Kota Tegal.

Warga Kota, Berkorbanlah!

Demi kemajuan kota dan perkembangan ekonomi, warga Kota Tegal harus ikhlas berkorban. Para PKL bersama mahasiswa yang tempo hari demo menentang penggusuran, renungkanlah ini:

Taman Pancasila digandrungi orang, terutama dari luar Kota Tegal. Kalian mahasiswa jangan suka mengecilkan Taman Pancasila – meski memang kecil, kalah luas dan kalah bagus dengan taman sejenis di kota lain.

Para PKL yang belum dipenuhi janjinya untuk direlokasi, berusahalah tersenyum, karena kalian telah membahagiakan banyak orang luar kota yang butuh tempat cuci mata dan arena selfa-selfi.

Dengan wajah baru Taman Pancasila dan Jalan Pancasila saja, itu sudah membanggakan loh, apalagi kalau alun-alun sudah dibuka. Buktinya, siang tadi, Selasa, 23 November 2021, kawasan ini jadi tempat transit Reli Moge Jakarta-Bali. Bayangkan, reli motor gede! Hanya orang-orang kaya yang mampu beli moge. Kalian yang hidupnya kembang-kempis akibat pandemi dapat hiburan gratis, kendati jalan harus ditutup berjam-jam.

Betapa moge-moge impor yang gagah itu meliuk-liuk diiringi suara knalpot berdebum dan aneka suara klakson, dari yang mirip suara anjing menyalak hingga suara sapi betina menjerit. Betapa warga sekitar yang jalannya ditutup sejak pagi, dan para pemilik toko serta pedagang yang kehilangan pembeli, dengan khusyuk dan terkagum-kagum menyaksikan atraksi itu.

Kalian betul-betul warga yang baik dan patuh. Meski kalian tidak pernah diberitahu kenapa jalan ditutup dan sampai kapan, juga tidak menerima ganti rugi akibat kehilangan akses jalan dan pendapatan, atau sekadar sembako dari rombongan itu, kalian tidak bersikap seperti warga Puncak, Cianjur, yang karena antipatinya terhadap mode, sengaja membiarkan moge terpeleset di jalan menurun yang licin saat berlangsung konvoi moge.

Pindahlah ke Lain Tempat!

Selain PKL dan mahasiswa pernah demo, warga di kawasan alun-alun juga pernah menyurati Wali Kota Tegal. Mereka memrotes larangan parkir di sepanjang Jalan Pancasila dan penutupan kawasan setiap hari mulai pukul 18.00 hingga pukul 00.00. Tidak terkecuali setiap hari Ahad ditutup dari pagi sampai siang untuk car free day. Mereka protes karena terhalang akses jalannya dan dagangannya sepi. Surat itu sepertinya tidak ditanggapi oleh Wali Kota. Pupus sudah harapan untuk recovery ekonomi pasca-pandemi.

Mereka tampaknya tidak tahu kalau kawasan alun-alun akan ditutup permanen, hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Setidak-tidaknya ditutup permanen selama Dedy Yon Supriyono masih jadi wali kota. Itu pemahaman yang muncul dari dokumen Studi Kelayakan Penataan Kawasan Alun-Alun maupun dari keterangan Dedy Yon kepada media.

Jadi, walaupun kalian mengeluh terganggu akses jalannya dan dagangan sepi, the show must go on. Kalian bukanlah pemilik Kota Tegal. Kalian hanya pemilik atau penyewa properti di kawasan itu. Pemilik Kota Tegal adalah pengambil kebijakan kota yang telah kalian pilih sendiri.

Karena itu, sebagai warga yang baik, kalian harus mengalah. Pindah saja ke lain tempat! Tutup tokonya atau pindahkan dagangannya. Kalau tidak pindah selamanya, ya pindah sementara sampai situasi dan kondisi berubah. Dulu juga kawasan Alun-Alun Tegal pernah diributkan karena dipakai untuk arena balap motor. Meski aneh bin ajaib, itu fakta. Kenapa tidak bikin saja sirkuit balap, kok pakai alun-alun, ya itu kan pikiran kalian. Pikiran penguasa bisa beda. Untungnya, masyarakat gencar protes dan balapan dihentikan.

Selama slogannya masih “Tegal Laka-Laka”, tidak perlu gumun, tidak perlu bingung. Slogan itu tampaknya mengundang daya tarik orang untuk membuat Kota Tegal “memang beda” atau “asal beda” (Jawa: waton suloyo).

Bahwa wali kota yang dulu menjadikan kawasan alun-alun sebagai arena road race telah meringkuk di penjara, berharaplah kejadian yang sama tidak terulang. Biar warga Kota Tegal tidak kehilangan wibawa dan martabatnya.

Kalian yang merasa menjadi korban penataan kota, doakan saja yang baik-baik. Bahwa doa orang yang dizalimi itu makbul, tembus langit, memang betul. Juga bahwa orang yang dizalimi dibolehkan menggunakan kata-kata yang kasar juga betul. Akan tetapi, kalau kalian memaafkan, maka itu lebih utama di sisi Allah jika kalian termasuk orang-orang yang beriman. Forgiven but not forgotten. Maafkan tapi jangan lupakan! (*)