Take a fresh look at your lifestyle.

Misteri Hilangnya Sebuah Desa di Brebes, Mitos Atau Fakta Sejarah

250

WILAYAH Kabupaten Brebes yang berada diujung barat Provinsi Jawa Tengah, ternyata menyimpan banyak kisah misteri. Daerah yang dijuluki Kota Telur Asin ini, dikenal juga dengan beberapa kisah misteri seperti, Mbah Jaka Poleng, Lebu Sora, Sungai Pemali dan kisah lainnya. Di luar kisah itu, ternyata masih menyimpan misteri-misteri lain yang mungkin belum diketahui masyarakat, termasuk oleh warga asli Brebes sendiri. Sebut saja kisah Misteri Hilangnya Sebuah Desa di Kecamatan Banjarhajo, Brebes, yang sempat viral di media sosial. Benarkan hilangnya desa secara misterius ini hanya mitos, atau memang sebuah fakta sejarah?

Desa yang hilang misterius ini, dikenal dengan nama Desa Pegadungan atau kadang, biasa disebut juga Pagadungan. Desa ini sudah ada sejak sebelum masa penjajahan Belanda. Kalau melihat peta saat ini, lokasi desa ini berada di sebelah selatan Desa Cigadung, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Namun dalam peta sekarang, nama desa ini tidak ada karena raib secara misterius.

Kisah Budak Angon dan Sesepuh Sakti

Dari berbagai sumber yang dihimpun smpantura.com, awal mula kisah hilangnya Desa Pegadungan ini, dikaitkan dengan penyerangan pasukan Belanda yang terjadi di daerah Tegal, Pekalongan dan Brebes. Saat para penduduk melarikan diri ke segala arah, warga di Desa Pegadungan justru berdiam diri. Ini karena sesepuh desa yang diketahui memiliki ilmu kesaktian sangat tinggi melindungi desanya dari serangan pasukan Belanda, dengan cara membuat desa ini menjadi tidak terlihat oleh siapapun.

Foto :Ilustrasi. sumber : www.google.com
Foto :Ilustrasi. sumber : www.google.com

Sesepuh desa ini menaburkan abu yang telah diberikan mantera sambil memutari desa. Ia juga tidak menyisakan tanah tanpa taburan abu yang menjadi pintu keluar atau masuk dari desanya. Ketika titik awal dan akhir taburan abu ini bertemu, Desa Pegadungan mendadak lenyap dari pandangan mata. Sang sesepuh, kemudian ikut bertempur melawan penjajah. Namun malang nasibnya, karena ia tewas dalam pertempuran, tanpa sempat mengembalikan desanya seperti sedia kala. Akibatnya, desa ini pun hilang beserta para penduduk dan seluruh isinya.

Dari versi lain, hilangnya Desa Pegadungan ini berawal dari kisah seorang “Budak Angon” (anak pengembala-red), yang bernama Ujang. Anak ini tinggal di Desa Pegadungan bersama ayahnya. Suatu hari ketika sedang mengembala kerbau, ia menemukan ‘mangandeuh leweung’ atau sejenis benalu hutan, yang tumbuh di pohon bambu pethung (bambu hijau-red). Karena melihat bentuknya yang unik, Ujang tertarik dan memetiknya, kemudian dibawanya pulang. Sesampainya di rumah, Ujang ini asyik mengamati tanaman benalu itu. Daunnya lebar dengan bunga yang berwarna merah merekah, tidak tampak seperti benalu pada umumnya. Lantaran takjub, Ujang kemudian mengalungkannya di leher, bahkan ia juga menciuminya.Ayah Ujang yang baru pulang dari kebun, melihat kerbau-kerbau yang dikembalakan anaknya sudah masuk ke dalam kandang. Ia tampak senang karena anaknya yang masih berumur 10 tahun ini, sudah bisa diandalkan dalam hal mengembala.

“Pinteeur yeuh budak, teu kudu dipapatahan geus nyaho gawean (pintar nih anak, tidak perlu diperintah sudah tahu tugasnya),” gumam ayah Ujang.
Ayah Ujang ini kemudian masuk ke rumah dan mencari anaknya.
“Jaangg… Ujaangg.. Ntos dahar acan? Dahar heula! Yuh barenga bapak (Jaangg… Ujaangg.. sudah makan, blum? makan dulu! ayo sama bapak),” serunya memanggil Ujang. Namun panggilannya ini tak kunjung dijawab. Ia pun mondar-mandir mencari anaknya.
“Jaangg..! Dimana maneh?(Jaangg..! Dimana kamu?),” katanya lagi.
“Abdi pan dihareupeun bapak, moal enya teu katingal? (Saya kan di depan bapak, masa tidak kelihatan?),” sahut Ujang.
“Hareupeun mana? Teu aya ah (Di depan mana? Tidak ada tuh),” jawab ayanya.
“Maneh mawa naon? lesotkeun heula! (Kamu bawa apa? Lepaskan dulu!),” sambung ayah Ujang.

Ujang pun melepaskan benalu hutan yang dikalungkan di lehernya. Seketika itu juga bapaknya dapat melihatnya.
“Heuuh budak! Ulinan dang kitu, mantak pirewaseun kolot. Dahar heula kaditu! (Huh dasar bocah! Malah main seperti itu, membuat orang tua khawatir saja. Makan dulu sana!),” kata ayah Ujang begitu melihat anaknya.
“Muhun atuh pak, hampura (iya pak, maaf),” jawab Ujang seraya pergi ke dapur dan meletakan benalu miliknya di meja.
“Jang, eta mangandeuh ulah dibabawa nya. Piceun kaditu, diduruk mun perlu (Jang, benalunya jangan dibawa terus. Buang sana, kalo perlu dibakar saja),” perintah ayahnya.
Selesai makan, ujang mengambil benalu itu. Ia juga mencari beberapa daun kering dan kayu bakar. Ujang menyalakan api dan membakarnya di belakang rumah.
Tapi karena benalu itu masih segar dan agak basah sulit sekali untuk terbakar.
“Ngkee… Ngkee… Tadi urang mawa mangandeuh ieu bapak teu tiasa ningalikeun urang. Wehh aluss, bisa ngaleungit berarti urang (Sebentar… Sebentar dulu… Tadi saya bawa benalu ini bapak tidak bisa melihat saya. Eeh bagus, saya bisa menghilang),” ujar Ujang yang sadar benalu itu mempunyai keistimewaan. Tapi sayang api sudah menghanguskannya hingga tinggal setengah. Ujang mematikan api lalu mengambilnya. Sisa benalu yang belum terbakar ia simpan, sedangkan abu hasil pembakaran ia
kumpulkan. Ia kemudian beranjak ke bagian pinggir desa.

Dari sana, Ujang berjalan mengelilingi desa sambil menaburkan abu itu. Pikirannya sederhana, jika benalu itu bisa membuatnya tidak terlihat, tentu desanya pun juga tidak
akan terlihat oleh siapapun, terutama oleh pihak Belanda yang akan menyerang desanya. Karena Ujang masih seorang bocah yang polos, ia tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah ia menaburkan semua abu dan bertemu antara titik awal dan akhir, Ujang pun berada di dalam lingkaran yang ia buat. Ia pulang ke rumah dan melanjutkan hidupnya, ia tidak sadar telah membawa malapetaka untuk semua orang di desa. Terlebih warga yang masih berada di luar desa, mereka tidak pernah menemukan desanya. Konon para penduduk desa yang berada di dalam lingkaran belum sadar kalau mereka kini sudah berada di dimensi yang lain. Sampai suatu ketika pasukan Belanda menyerang, mereka hanya melewatinya begitu saja. Dari sanalah mereka baru sadar, orang dari luar desa tidak bisa melihat mereka dan desanya. Ya, desa mereka kini ‘hilang’ bak ditelan bumi.

Lalu bagaimana dengan nasib warga Pegadungan yang sebelum kejadian berada di luar desa, dan tidak bisa masuk akibat ulah Ujang ini? Konon menurut cerita versi lain, warga yang tidak bisa masuk ke desanya itu akhirnya membuat desa di sekitarnya. Lebih tepatnya di sebelah utara Desa Pegadungan yang hilang, yang kini desa itu disebut Cigadung.

 

Dari Koin Belanda Hingga Gadis Hilang Saat Masuk Pegadungan

Dalam pandangan katap mata orang biasa, di wilayah Desa Pegadungan tidak ada rumah maupun manusia, dan hanya lahan kosong yang luas ditumbuhi ilalang hingga semak belukar. Warga sekitar percaya, penduduk Pegadungan bisa keluar-masuk desa seperti biasa, hanya saja dimensi waktu mereka berbeda. Mereka tidak terbatas ruang dan waktu lagi. Konon mereka tidak mengalami penuaan, bahkan kematian. Para penduduk sekitar Pegadungan juga percaya, setiap kali “prepegan” (hari menjelang lebaran) Pasar Banjarharjo menjadi sangat ramai sekali. Jalanan dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Tidak hanya manusia, konon warga Pegadungan pun ikut berbelanja.

Foto : Pasar Banjarharjo. sumber : www.google.com
Foto : Pasar Banjarharjo. sumber : www.google.com

Tidak sedikit warga secara tidak sengaja berinteraksi dengan warga Desa Pegadungan yang hilang ini. Pengalaman interaksi ini seperti dikisahkan pemilik akun twitter @BaelahHeru. Ia menceritakan pengalaman seseorang yang berinteraksi dengan warga Desa Pegadungan saat hari ‘Prepegan’. Bagi beberapa orang yang mungkin pikirannya kosong, tidak stabil, atau memang diberi kelebihan maka akan bisa melihat beberapa orang yang berpenampilan sangat sederhana. Mereka memakai pakaian alakadarnya seperti penduduk pribumi di jaman kolonial dan ikut bergerumul dengan para pembeli lainnya untuk berbelanja. Nah, saat para pedagang pulang ke rumah, ada saja uang koin jaman dahulu yang tercampur. Padahal ia yakin tadi di pasar semua uangnya kertas dan masih baru. Ada juga pedagang yang bernasib buruk, karena sebagian uang di tasnya berubah menjadi daun kering yang terlipat. Ya, mereka tahu ini ulah warga Pegadungan yang ikut berbelanja.

Kisah lain juga dialami penduduk sekitar, sebut saja namanya Pak Min. Ia bekerja sebagai buruh untuk memanen padi, dimana ada lahan sawah yang panen. Pada suatu hari, Pak Min berangkat dari rumahnya. Ia tampak senang ketika sesorang menghampirinya dan menawarkan pekerjaan untuk memanen padi di ladangnya. Ia tidak sadar bahwa ia telah masuk ke Desa Pegadungan, dan memanen padi di sana. Sampai semuanya selesai, ia mendapatkan dua karung gabah sebagai upah. Karena berat untuk dibawa keduanya sekaligus, ia berniat membawanya satu per satu ke rumah. Awalnya Pak Min tidak menaruh curiga, ketika karung pertama sudah diletakkan di rumah. Kemudian, ia berniat mengambil satu lagi, tetapi pak Min tak pernah menemukan gabahnya lagi. Padahal ia yakin betul dimana terakhir kali meletakkannya. Bukan hanya gabahnya, desa dan ladang yang ia datangi tadi sudah tidak ada, lenyap begitu saja dan hanya meninggalkan lahan kosong dan hutan. Namun Pak Min termasuk orang yang beruntung, karena sudah masuk ke desa Pegadungan dan masih bisa keluar dari sana.

Kisah lebih tragis terkait Desa Pegadungan ini terjadi sekitar 7 tahun lalu, tepatnya di tahun 2014 silam. Dikisahkan ada seorang gadis tetangga desa lain yang akan melangsungkan pernikahan kurang dari seminggu, mendadak hilang. Namun gadis itu ternyata disenangi oleh pemuda dari Desa Pagadungan, dan di bawa masuk ke desa itu. Ya, untuk hidup yang abadi, kekal dengan cinta gilanya. Kabar ini sontak membuat warga lainnya gempar. Entah usaha apa saja yang dilakukan orang tua dan calon pasangannya. Tapi hingga kini, gadis yang hilang itu belum berhasil ditemukan.

 

Desa Korban Bumi Hangus Pasukan Belanda di Agresi Militer I

Berbagai kisah mistis memang berkembang di masyarakat terkait keberadaan Desa Pegadungan. Lalu bagaimana menurut versi sejarah terhadap keberadaan desa yang hilang misterius ini ? Sejarahwan Brebes, Wijanarto mengungkapkan, cerita hilangnya Desa Pegadungan secara misterius itu, berkaitan erat dengan sejarah Agresi Militer I Belanda di wilayah Kabupaten Brebes. Di tahun 1945-1949, daerah Banjarharjo, Ketanggungan hingga mendekati Salem menjadi wilayah yang diperebutkan pasukan Belanda saat melancarkan Agresi Militer I. Hal ini menjadi bagian sejarah revolusi Kemendekaan Indonesia, dengan ditandai adanya beberapa monumen di wilayah terseburt, seperti di monumen di Desa Sindangheula (Banjarharjo) dan Ketanggungan.

Wijanarto - Sejarahwan Brebes
Wijanarto – Sejarahwan Brebes

Dari catatan-catatan sejarah, sepanjang tahun 1945 – 1949, di wilayah Banjarharjo dan sekitarnya terjadi beberapa fenomena berkaitan dengan konflik berdarah saat perjuangan kemerdekaan. Salah satunya, di tahun 1947 terjadi gesekan pertama. Dimana, pasukan Belanda melalui Nica telah melanggar perjanjian Linggar Jati, dan pada 21 Juli 1947, mereka melancarkan aksi pertama yang disebut Polisional atau Agresi Militer I. Aksi ini bertujuan menangkap para geriliyawan-geriliyawan Republik. Dampak dari Agresi Militer I ini, Belanda melakukan swiping terhadap desa-desa yang dimungkinkan membantu Republik atau dimungkinkan mereka melakukan kegiatan geriliya. “Dari catatan-catatan sejarah arsip Navice, di wilayah Tegal dan Brebes banyak sekali pembakaran kampung, pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang pro republik oleh tentara Belanda. Kalau kita melihat rentan waktu hilangnya Desa Pegadungan, ini terjadi saat masa penjajahan Belanda di tahun 1947. Hal ini erat hubungannya dengan aksi pembakaran dan pembumihangusan kampung saat Agresi Militer I,” ungkapnya yang juga menjabat Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes..

Rekonstruksi historis karena keminiman data, dan banyak masyarakat yang menimpan luka-luka mendalam pada masa itu, lanjut dia, maka muncul peusedotik histori atau sejarah yang semu. Dimana, Desa Pegadungan itu menjadi riwayat kisah mistik desa yang hilang karena kesaktian sesepuh, yang kemudian selamat dari aksi Agresi Militer I. Padahal ketika mengacu pada rentetan sejarah di masa itu, dimana banyak terjadi aksi pembumihangusan kampung di wilayah Brebes oleh pasukan Belanda, termasuk di Desa Pegadungan. “Kalau kita melihat rentetan sejarah ini, hilangnya Desa Pegadungan ini merupakan bagian dari dampak aksi bumi hangus pasukan Belanda terhadap kampung-kampung yang melindungi orang-orang pro republik. Namun karena masyarakat setempat mempunyai trauma atas sejarah kelam dan pembantaian massal ini, mereka yang selamat memilih mengganti nama desanya dengan nama yang hampir sama, yaitu Cigadung. Mereka juga memilih tidak menempati kembali desanya, tetapi sedikit berpindah ke sisi selatan,” ceritanya.

Kenapa nama desanya diganti? Wijanarto menjelaskan, masyarakat di Nusantara mempunyai tradisi ketika ada kesialan yang menimpa, maka untuk membuang kesialan itu dengan cara mengganti sesuatu yang baru, baik nama atau istilah yang baru. Misal saja, nama Kusno yang semula kerap sakit-sakitan. Untuk membuang kesialan itu, kemudian orang tuanya mengganti nama menjadi Sukarno. Di tradisi Jawa khususnya, hal ini juga berlaku untuk nama tempat tinggal atau desa. “Begitu juga di Pegadungan, adanya aksi bumi hangus pasukan Belanda itu menjadi sebuah kesialan. Sehingga untuk membuang kesialan itu, warga mengganti nama desannya. Kemungkinan besar, Pegadungan ini ya Desa Cigadung saat ini, hanya pusat pemukimannya yang sedikit bergeser,” jelasnya.

Viralnya Desa Pegadungan yang hilang misterius hingga muncul riwayat-riwayat mistik, kata Wijanarto, merupakan momentum untuk mengungkap sejarah yang masih semu tersebut. Sehingga perlu adanya penggalian data-data yang lebih mendalam. Apalagi, kejadian desa hilang misterius itu ternyata tidak hanya terjadi di wilayah Banjarhajo, tetapi juga ada di Kecamatan Songgom, sebagai konsekuensi sejarah berdarah dari perjuangan kemerdekaan bangsa.

(T07-red)

BERITA LAINNYA