Take a fresh look at your lifestyle.

Membumikan Pancasila di Bumi Tegal

134

SLAWI – M Khuzaeni yang akrab disapa Jeni Bae terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Tegal periode 2019-2023 melalui Musyawarah Cabang (Muscab) Majelis Pimpinan Cabang (MPC) PP Kabupaten Tegal ke-VI di Pendapa Amangkurat Pemkab Tegal, Kamis sore (29/8). Anggota DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi Golkar itu, bertekat untuk membumikan Pancasila di seluruh wilayah Kabupaten Tegal.

“Kami intruksikan kepada seluruh anggota Pemuda Pancasila di Kabupaten Tegal untuk berperan aktif dalam membumikan Pancasila,” perintah Jeni Bae, kemarin.

Dikatakan, membumikan nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan mengaplikasikan sila-sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan nyata. Kalau tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maka tidak akan pernah menjadi tindakan nyata.

“Contohnya, dalam Sila Pertama itu takut akan Tuhan, senang berbagi, dan mencintai sesama,” terangnya.

Lebih jauh dikatakan, kalau ada orang menyebarkan hoaks, sentimen, itu artinya tidak mendalami kecintaan pada Tuhan. Jadi ketika agama tidak membatinkan dalam diri atau menjadi inspirasi, maka tidak akan membebaskan manusia dari kerakusan. Menurut Jeni, saatnya Pancasila dibumikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau tidak dibumikan dalam kehidupan sehari-hari, maka hanya menjadi alat kekuasaan saja dan bukan jadi ideologi bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Tegal, Hj Umi Azizah saat membuka acara Muscab MPC PP Kabupaten Tegal, meminta ormas PP menunjukan aksi nyata di masyarakat. Pasalnya, saat ini dibutuhkan peran serta masyarakat langsung dalam membangun sumber dayanya yang unggul, yang berkualitas untuk mendukung terwujudnya Indonesia Maju.

“Di era media sosial, era internet of things 3.0, tantangan kader Pemuda Pancasila adalah menjadi menjadi cerminan pribadi yang mampu mengajak lebih banyak orang untuk berbuat baik, berbicara baik,” kata Umi Azizah.

Ungkapan Bupati itu dinilai penting, karena generasi muda sekarang sebagai pengguna digital, dihadapkan pada situasi yang dilematis antara memegang adat ketimuran dan kultur keagamaan atau larut dalam trend global budaya luar atau budaya asing yang tidak sesuai dengan norma etika sosial di negara ini.

“Dampaknya, tidak sedikit anak-anak muda kita yang terjebak pada perilaku menyimpang seperti seks bebas, konsumsi miras, narkoba, tawuran, hingga persekusi di dunia maya,” ungkapnya. (Wiwit/red05)

BERITA LAINNYA