Take a fresh look at your lifestyle.

Mau Dinaikan, Retribusi Pintu Masuk Guci Malah Minta Dihapus

231

SLAWI – Disaat Pengelola Obyek Wisata Air Panas Guci di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal akan menaikan tarif tiket masuk Guci mulai 15 Februari 2020, Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tegal justru meminta tarif itu dihapus. Pasalnya, tidak ada imbal balik yang diberikan pengelola kepada pengunjung sebagai konsekuensi dari membayar tiket masuk itu.

“Pengunjung saat sudah masuk ke kawasan Guci tidak diberikan pelayanan apapun. Pengunjung saat masuk ke wahana harus bayar tiket lagi, dan parkir pun juga harus bayar lagi. Jadi, tiket masuk di gerbang utama untuk apa?,” kata Anggota Fraksi Golkar, M Khuzaeni, Kamis (13/2).

Dikatakan, retribusi daerah sesuai definisinya yakni pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat kepada daerah atas pelayanan yang diterima secara langsung atau atas perizinan yang diperoleh. Namun, di obyek wisata Guci tidak memberikan pelayanan apapun, karena saat pengunjung menggunakan fasilitas yang ada harus membayar kembali. Selain itu, Pemkab Tegal tidak memiliki wahana wisata di Guci. Obyek wisata Pancuran 13 yang menjadi icon wisata itu, dikelola BKSDA Jawa Tengah.

“Kalau alasannya jalan sebagai layanan di obyek wisata itu, tidak dibenarkan. Jalan merupakan fasilitas umum yang seharusnya disediakan pemerintah,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tegal itu.

Pria yang akrab disapa Jeni itu memberikan solusi jika retribusi masuk Guci dihapus, dan tidak mengurangi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari wisata Guci. Solusinya yakni retribusi dibebankan kepada pengelola wahana di Guci, termasuk penginapan dan hotel. Pemkab bisa tetap mendapatkan pendapatan, bahkan pendapatan bisa melebihi penjualan tiket di pintu gerbang utama.

“Makanya, kami minta untuk dihapuskan. Seperti di wisata Baturaden juga telah meniadakan tiket di gerbang utama,” ujarnya.

Terkait dengan kenaikan tarif, lanjut dia, harusnya berbanding lurus dengan pelayanan. Tapi, pembenahan selama ini dilakukan oleh pihak swasta yang mengelola obyek wisata di Guci. Pemkab hanya melakukan pembenahan jalan yang merupakan fasilitas umum. Selain itu, kenaikan tarif tiket masuk dinilai cara untuk mengumpulkan uang pengembalian. Pasalnya, tarif baru untuk dewasa di hari biasa Rp 9.400 dan di hari libur Rp 11.400. Sedangkan untuk anak-anak di hari biasa Rp 8.500 dan hari libur Rp 10.500.

“Kami dikhawatirkan ini salah satu trik untuk mengumpulkan uang lebih dari pengembalian, Coba kita hitung ada 1 juta pengunjung per tahun dikalikan Rp100 sudah terkumpul Rp100 juta. Perlu dikaji ulang untuk pembulatan ke atas atau ke bawah,” jelas Jeni. (Wiwit-red03)

BERITA LAINNYA