Take a fresh look at your lifestyle.

Mantan Walikota Nursholeh Siap Beraksi di Kongres Sastra Tegalan

149

 

TEGAL-Sastra Tegalan yang dulu tak diperhitungkan, sekarang bak air kelapa hijau yang deras-menderas mengalir atau bagai layang-layang mengangkasa melawan kencangannya angin. Akan tetapi tetap bertengger di atas awan.

Hal tersebut disampaikan penyair Tegalan, Atmo Tan Sidik, lewat puisi Tegalannya berjudul “Pamoré Sastra Tegalan” senyampang Selasa (26/11) Komunitas Sastrawan Tegalan bekerjasama dengan Universitas Pancasakti (UPS) Kota Tegal, bakal menggelar Kongres Sastra Tegalan Kaping Siji (1) di ruang Yayasan UPS Jalan Halmahera Tegal.

Menurut Atmo, puisi Tegalan yang ia cipta, nantinya bakal dibacakan mantan Walikota Tegal, HM. Nursholeh pada acara kongres berlangsung. “Dulu sebelum Sastra Tegalan lahir khususon puisi, bahasa Tegal hanya dijadikan bahan lelucon. Orang Tegal pun minder menggunakan bahasa Tegal,” tutur Atmo.

Omongkan Atmo ini tertuang di bait-bait puisinya yang berbunyi seperti ini:

//Wayah saiki keadaané Sastra Tegalan/ibaraté kaya banyu klapa ijo utawa layangan/sing mili utawané nglawan arus/tetep ana nang duwur//Ibaraté iwak lélé/basa Sastra Tegalan /mauné dianggep sepélé//Barang saiki wong pada paham katuranggané/nganti gizi lan manfaaté/oh alah idih jebulé ora péré-péré/malah krasa pada mbranang/dadi gegayuhan//.

Sastra Tegalan, lanjutnya, adalah sinonim dengan sastra bebrayan. Sesuatu yang sangat tepat untuk merajut kemodernan dan keindonesiaan.

“Ketika sumber-sumber referensi moral makin sulit ditemukan, maka untuk mendownlod estetika illahiyah diperlukan keseimbangan antara ilmu dan laku berbasis kearifan lokal, yang dalam konfigurasi dinamika nilai keindonesiaan. Saatnya Sila Pertama dari Pancasila ini menjadi sumber yang menafasi empat sila dari semua sila.”

Dalam hal ini, katanya, bahasa daerah adalah lambang dari pengalaman. Yang memainkan peran sebagai solidarity producting.

“Mitos sesombong apapun wong Tegal, ketika disembur ‘Tuah Sastra Tegalan’ akan segera sampai pada kesadaran untuk tidak songaran (sok), ora kedombrangan (tidak bertingkah aneh-aneh), malah sebaliknya luluh di lesehan paseduluran. Ini peran Sastra Tegalan dalam konteks Sila Persatuan.”

Ditegaskan, karena sifatnya Sastra Tegalan paseduluran, maka puisi Tegalan tidak hanya dibacakan di kotanya sendiri melainkan dibacakan di manca negara. Hal ini seperti terjadi beberapa pekan lalu ketika Tambari Gustam dan Inang Winarso di Spanyol membacakan puisi Tegalan.

Hal yang sama juga dibawakan oleh Dr. Maufur di Tajmahal India seperti tertuang pada bait-bait akhir puisi Atmo Tan Sidik://Anggita aksara Tegalan/diwaca tekan Spanyol ora mung mbanyol/ngramékena keguyuban lagi kyai Maufur sing Tegal/maca ning Tajmahal//Saiki waktuné bareng gawé pretungan/mumpung kongres Sastra Tegalan digelar//.

Semetara itu Ketua Panitia Kongres, Dhimas Riyanto menuturkan, keikutsertaan mantan Walikota Tegal HM. Nursholeh untuk membacakan puisi Tegalan karya Atmo itu, adalah sebagai wujud penghargaan kepadanya.

“Itu alasan kami menyertakan Kang Nursholeh selain untuk menghormati mantan walikota, selain itu dia adalah Bapak Sastra Tegalan,” ujarnya didampingi Sekretaris Kongres Lanang Setiawan.

Dalam kongres nanti, bertindak sebagai nara sumber yakni, Dr. Sunu Wasono (dosen Universitas Indonesia), Dina Nurmalisa, H.Hum (dosen Universitas Pekalongan, candidat doktor UI), Ahmad Tohari (novelis), Dr. Tri Mulyono (dosen UPS), Narudin (Pakar teori semiotika, penerjemah, dan kritikus sastra) dari Subang, Wijanarto (Pengamat Sastra Tegalan), dan Muarif Esage (Penulis buku dan Kritikus Sastra Tegalan) guru SMA Negeri I Slawi, Kabupaten Tegal. (enn/red)

BERITA LAINNYA