Take a fresh look at your lifestyle.

Malam Satu Suro, Pusaka Tombak Abirawa Dijamas

87

BATANG- Walaupun ditengah pandemi Covid-19, Bupati Batang Wihaji tetap menggelar prosesi tradisi penjamasan pusaka milik Pemerintah Kabupaten Batang, Tombak Abirawa dan pusaka lainnya. Dalam tradisi masyarakat jawa, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan dalam waktu tertentu saja.

Lazimnya jamasan pusaka, maka prosesi ini dilakukan hanya sekali dalam setahun yakni bulan suro tepatnya pada malam satu suro. Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda yang memiliki sejarah, termasuk benda berupa senjata leluhur yang memiliki tuah.

Namun berbeda dari tahun sebelumnya dimana prosesi bisa dihadiri oleh masyarakat, penjamasan kali ini terbatas hanya dihadiri sebagian ASN dari Dindikbud serta ahli waris.

” Karena pandemi Covid-19, proses penjamasan pusaka kami lakukan secara terbatas. Hanya sebagian ASN dan ahli waris yang ikut. Ini berbeda dari tahun sebelumnya yang mengundang masyarakat. Terpenting dari prosesi ini adalah tetap melestarikan tradisi budaya,” tutur Bupati Batang, Wihaji usai prosesi penjamasan, Rabu (19/8).

Bupati mengungkapkan, penjamasan pusaka Tombak Abirawa semata-mata hanya sebagai kegiatan budaya yang setiap tahunnya rutin dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Batang.

” Jadi kegiatan ini tidak bermaksud untuk mengkultuskan benda-benda pusaka peninggalan para leluhur. Hanya bagian dari nguri-uri budaya,” ujarnya.

Sebelum dilakukan penjamasan, Tombak Abirawa beserta puluhan benda pusaka lainnya dikirab mengelilingi halaman pendopo sebanyak 3 kali. Untuk Tombak Abirawa ada 8, dan yang lainnya benda pusaka yang dijamas.

Terdapat puluhan benda pusaka termasuk dari masyarakat yang menitipkan benda pusakanya. Wihaji menyampaikan, sebagai simbol pusaka Batang, Tombak Abirawa harus selalu dijaga kesakralannya. Penjamasan menjadi bagian tradisi yang harus dilestarikan.

” Harapannya juga bisa saling membersihkan diri. Di tahun baru Islam ini juga sebagai guyub rukun membangun batang dan bagian dari penghormatan leluhur, serta warisan leluhur tradisi yang harus dilanjutkan terus menerus,” katanya. (Trisno Suhito-red17)

BERITA LAINNYA