Take a fresh look at your lifestyle.

Lulusan PTS Jangan Minder Bersaing

133

* Pasar Kerja Utamakan Akreditasi dan Kompetensi
* 570.000 Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur

TEGAL – Kepala Lembaha Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah VI Jateng Prof Dr Dwi Yuwono Puji Sugiharto MPd Kons menegaskan, lulusan perguruan tinggi swasta agar (PTS) jangan minder, ketika bersaing dalam pasar kerja.

Karena dunia kerja saat sekarang, sudah tidak lagi menanyakan dari lulusan PTN atau PTS. Melainkan lembaganya atau perguruan tingginya sudah terakreditasi apa, dan prodinya juga terakreditasi apa.

Prof Dr DYP Sugiharto MPd Kons

”Dan lulusannya ditanyakan kompetensinya, sejurus dengan kebutuhan dunia kerja yang ditawarkan,” tandas dia, saat memberi motivasi terhadap 805 wisudawan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, di Auditorium Daryoen Seno Atmodjo, Sabtu (21/9).

Wisuda tersebut merupakan, kegiatan Wisuda Ke-7 Magister (S2), Wisuda Ke-62 Sarjana (S1) dan Wisuda Ke-40 Diploma 3 (D3), yang digelar perguruan tinggi tersebut, yang kini menginjak usia 39 tahun.

Rektor Dr Burhan Eko Purwanto MHum mengungkapkan, jumlah wisudawan dari tiga jenjang pendidikan itu, terdiri atas 47 wisudawan S2, 721 wisudawan S1 dan sebanyak 37 wisudawan dari D3. Total jumlah lulusan perguruan tingginya hingga kini telah mencapai 19.125 orang.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala LL Dikti Wilayah VI Jateng, juga menyampaikan apresiasi tinggi terhadap perguruan tinggi tersebut dibawah kepemimpinan Rektor Dr Burhan Eko Purwanto MHum.

WISUDAWAN TERBAIK : Sejumlah wisudawan terbaik UPS Tegal, dari enam fakultas dan jenjang pendidikan, duduk di barisan paling depan, saat wisuda periode genap Tahun Akademik 2018/2019.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

Karena dalam catatan lembaganya, UPS Tegal merupakan perguruan tinggi yang telah melaksanakan Tri Dharma Peguruan Tinggi. Juga dinilai baik, taat azaz, akuntabel, dan mengikuti seluruh aturan dari Kemenristek Dikti.

Meningkatkan Akreditasi

Dia berpesan, perguruan tinggi itu untuk terus mempertahankan dan meningkatkan akreditasi. Baik Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT), maupun akreditasi program studi.

”Saat ini ada perubahan mendasar, tentang instrumen akreditasi, sehingga perlu persiapan lebih matang untuk mempersiapkan akreditasi.

Terlebih akreditasi yang dimiliki UPS Tegal, beberapa waktu lagi, akan habis. Sehingga perlu ada persiapan yang lebih baik, sejalan dengan tema wisuda ini, yaitu terkait dengan penjaminan mutu,” ucap dia.

Kepada ratusan wisudawan, Prof Dr DYP Sugiharto MPd Kons mengayunkan dua hal penting berkait status kelulusan dan tantangan setelah diwisuda. Untuk status kelulusan, semua perguruan tinggi di Indonesia telah dipayungi landasan hukum yang sama dengan PTN. Yaitu UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

UU yang memayungi perguruan tinggi itu, kata dia, tidak mendikotomikan, tidak membedakan antara PTN dan PTS. Artinya mutu perguruan tinggi, mutu prodi, termasuk mutu lulusannya, tidak ditentukan lulusan dari PTN atau PTS.

Tapi yang menentukan mutunya adalah, peringkat akreditasinya. Akreditasi PTN maupun PTS, diakreditasi oleh lembaga yang sama, diakreditasi dengan instrumen yang sama.

Nilai atau harga akreditasi PTN dan PTS adalah, sama. ”Maka sekali lagi, para wisudawan wisudawati, jangan pernah inveriority, jangan pernah rendah diri, karena saudara lulusan PTS,” ucap dia.

Sekali lagi dia menegaskan, dunia kerja, tidak pernah lagi menanyakan pencari kerjanya , lulusan PTN atau PTS. Melainkan lembaganya ditanyakan akreditasinya, lulusannya ditanyakan kompetensinya.

Tantangan Lulusan

Menurut dia, setelah diwisuda, peningkatan kompetensi harus terus dikembangkan.  Berkait dengan kompetensi, sebenarnya merupakan jawaban terhadap tantangan lulusan perguruan tinggi. Karena yang baru diwisuda, dan belum bekerja, akan memasuki masa depan dunia kerja. Sebaliknya bagi yang sudah bekerja, wisuda tersebut diharapkan meningkatkan promosi posisi kerja.

Era sekarang, kata dia, ada yang menyebut, Era Revolusi Industri 4.0, Era Revolusi Digital, atau Era Society 5.0. Intinya dimasa depan itu, lulusan perguruan tinggi menghadapi perubahan yang sangat dasyat dan sangat cepat.

”Kalau wisuda pada hari ini, diibaratkan sebagai terminal untuk berhenti sementara, dan saudara akan melanjutkan perjalanan. Maka pemberhentian sementara ini, merupakan pemberhentian, yang dalam bahasa motivasi dunia kerja disebut, saudara dalam posisi inflektion point,” tandas dia.

Inflestion point, menurut Kepala LL Dikti VI Jateng adalah, posisi titik belok. Banyak lulusan perguruan tinggi, yang salah belok. Sehingga kemudian menjadi gagal berkompetisi. Ujungnya menjadi pengangguran lulusan perguruan tinggi. Dan jumlahnya semakin banyak.

Data dari kementerian tenaga kerja, menunjukkan ada 570.000 lebih lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Mengapa mereka menganggur, karena salah belok setelah lulus. Mereka menganggur , bukan karena IPK-nya rendah, lulusan PTS, lulusnya lama, atau bukan pula karena tidak ada pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan. Juga bukan berkait dengan persoalan akademik. Tapi dengan persoalan mental.

Berdasarkan analisa diagnosis, mengapa lulusan perguruan tinggi menganggur, ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut dia, setelah lulusan bermental penumpang. Kemudian berperan sebagai penonton. Terakhir adalah tak bernyali alias penakut untuk bersaing.(Riyono Toepra-red07)

BERITA LAINNYA