Take a fresh look at your lifestyle.

Longsor, Jalan Bumijawa-Sumbaga Nyaris Putus

146

SLAWI – Komisi III DPRD Kabupaten Tegal meminta perbaikan jalan Bumijawa-Sumbaga di Kecamatan Bumijawa, digeser dengan membuat jalan baru. Hal itu dikarenakan jalan tersebut longsor dan sulit diperbaiki. Dikhawatirkan, jalan sepanjang 300 meter itu kembali longsor.

 

“Sebenarnya jalan itu sudah halus. Tapi di tengah jalan menuju ke Sokasari ada yang longsor dan nyaris putus. Kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Wakil Ketua Komisi III M Khuzaeni, usai melakukan kunjungan ke lokasi jalan longsor tersebut pada Selasa (14/1).

 

Dikatakan, ruas jalan yang menjadi kewenangan Pemkab Tegal mengalami longsor sepanjang sekitar 300 meter. Saat mendapat informasi itu, Komisi III dipimpin Ketua Komisi III Munif dan anggota lainnya, langsung menuju ke lokasi. Mereka sangat terkejut saat melihat ruas jalan itu yang sudah rusak karena terbawa longsor. Padahal, kondisi jalan masih halus dan layak dilewati pengendara motor.

 

“Kami mendapatkan masukan dari kepala desa setempat terkait dengan proses perbaikan. Disarankan, membuat jalan baru ketimbang memperbaiki jalan yang longsor itu,” ujar pria yang akrab disapa Jeni itu.

 

Menurut dia, jalan itu tak perlu diperbaiki, namun Pemkab harus membangun jalan baru sepanjang sekitar 600 meter. Jadi, jalan baru itu menghindari lokasi tanah yang longsor. Alasannya, jika jalan itu diperbaiki, maka akan terjadi longsor lagi. Hal itu dikarenakan kultur tanah labil, dan tanah bergerak.

 

Jeni menilai jika dianggarkan untuk perbaikan di jalan yang longsor, tentu akan membutuhkan dana yang besar. Dipastikan, rekanan atau penyedia jasa juga kesulitan untuk memperbaiki tanah yang labil.

 

“Ini anggarannya harus besar. Sebaiknya bikin jalan baru saja,” pintanya.

Kabid Jalan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Tegal, Sudarso SST menuturkan, ruas jalan Bumijawa-Sumbaga yang longsor telah dianggarkan dalam APBD Kabupaten Tegal tahun 2020 sebesar Rp 900 juta. Anggaran itu digunakan untuk pengurukan jalan, bronjong tebing dan perbaikan jalan. Hingga kini, proses perbaikan jalan itu memasuki tahap pembuatan detail engineering design (DED).

 

“Jika anggaran itu digunakan untuk membuat jalan baru tidak cukup, karena harus ada pembebasan lahan,” ujarnya.

 

Ia mengakui bahwa lokasi jalan itu kerap terjadi longsor. Bahkan, longsor sebelumnya telah ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal dengan membuat bronjong. Akan tetapi, bronjong yang telah dipasang kembali terbawa longsor. (Wiwit/red03)

BERITA LAINNYA