Take a fresh look at your lifestyle.

Literasi di Rumah Perlu Digerakan

140

SLAWI-Gerakan literasi yang telah dilaksanakan  di sekolah, diharapkan juga dilaksanakan di rumah dan lingkungan sekitar.  

“Sejauh ini, gerakan literasi paling terasa adalah di sekolah, dimana murid diwajibkan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai di pagi hari. Namun demikian, gerakan ini belum diikuti dengan gerakan literasi di rumah maupun lingkungan sekitar,” demikian disampaikan Wakil Bupati Tegal, Sabilillah Ardie pada saat membuka Pameran Buku Perpusda Kabupaten Tegal 2019 di Gedung Korpri Slawi, Selasa (23/7).

Ardie menyebutkan, gerakan literasi diharapkan mampu mengatasi kendala terkini, dimana siswa dihadapkan pada situasi dan lingkungan bacaan digital yang narasi penulisannya cenderung pendek, singkat, sehingga siswa langsung menyerah, tidak mau membaca saat diberikan teks buku yang panjang dengan alasan pusing.

“Bagaimanapun, literasi membaca ini harus kita dorong, kita tingkatkan, karena literasi membaca adalah pintu masuk ke literasi-literasi lainnya,”sebutnya.

Disebutkan, pada peringatan Hari Buku Nasional 2019,  Pusat Penelitian Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI meluncurkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) 34 Provinsi.

Indeks ini mengukur empat dimensi terkait tercapainya literasi membaca di masyarakat tiap provinsi. Pertama,  dimensi kecakapan meliputi melek huruf latin dan menempuh pendidikan.

Kedua, dimensi akses ke buku baik di perpustakaan, taman bacaan, dan penjual buku. Faktor akses juga mencakup kemampuan membeli surat kabar, majalah, dan tabloid.

Ketiga, dimensi alternatif, yakni ketersediaan jaringan internet dan kemampuan memakai gawai elektronik, dan keempat adalah dimensi budaya yang melingkupi kebiasaan membaca artikel di media cetak dan elektronik, mengunjungi perpustakaan, serta memanfaatkan taman bacaan.

“Hasilnya, aktivitas literasi membaca kita rendah. Dari skala 0-100, terungkap dimensi akses dan budaya masih rendah,  hanya 23,09 poin dan 28,50 poin. Padahal, dari segi kecakapan memiliki poin cukup tinggi, yakni 75,92. Adapun untuk dimensi alternatif masih rendah dengan 40,49 poin. Apabila dihitung poin rata-rata, Indeks Alibaca Indonesia baru 37,32,”tuturnya.

Menurut Ardie, indeks ini ternyata berkorelasi dengan penelitian Perpustakaan Nasional di tahun 2017, dimana frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu dengan lama waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Adapun jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku.

Diselenggarakannya pameran buku oleh Perpusda Kabupaten Tegal mulali 23-28 Juli disambut baik olehnya. Hal ini sebagai sebuah pendekatan penyediaan  buku dan bahan bacaan serta mendorong masyarakat  lebih mencintai buku, meningkatkan minat dan kebiasaan membaca buku.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati mengimbau agar  perpustaan sekolah dan taman bacaan diaktifkan. Disamping itu, masyarakat juga dibiasakan mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah , A Apipudin menyebutkan, pameran buku diikuti 18 penerbit. Disamping itu, juga diadakan bazar kuliner.

Selama pameran berlangsung, juga dilaksanakan berbagai lomba. Diantaranya lomba teater , lomba mewarnai  tingkat PAUD dan TK , lomba mewarnai centong tingkat SD dan  fashion show.

“Kegiatan lain ada lomba bikin tahu aci, kesenian pesantren, kaligrafi, makan tahu aci, modifikasi helm dan lomba nyanyi Tegalan,”urainya.

(Sari/ red38)

BERITA LAINNYA