Take a fresh look at your lifestyle.

Lembaga Kursus Selaras dengan Pendidikan Formal

182
TEGAL – Lembaga kursus dan pelatihan, ternyata sangat mendukung dan selaras (Compatible) dengan pendidikan formal. Pernyataan itu tertuang dalam penelitian Dewi Apriani Fristianingroem, yang diracik menjadi disertasi untuk meraih gelar doktor, di Program Doktor Manajemen Kependidikan Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.
Disertasi bertajuk ”Manajemen Pendidikan Kecakapan Hidup Pada Lembaga Kursus dan Pelatihan SK’I di Kota Tegal”, saat ujian terbuka di Ruang B 106 Pascasarjana, oleh tim penguji, dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Promotor Prof Dr  Soesanto MPd, Co Promotor Prof Dr Tri Joko Raharjo MPd, Anggota Promotor Prof Dr Wasino MHum, pun menyampaikan ucapan terimakasih, usai ujian terbuka dihadapan para pakar yang dinilainya cukup berat dan penuh tantangan.
Sebagai catatan, di ujian tahan kedua yang merupakan ujian terbuka di program doktor perguruan tinggi itu, Tim Penguji terdiri atas, Ketua Prof Dr H Achmad Slamet MSi, Sekretaris Prof Dr Wasino MHum, dengan anggota penguji Prof Dr Widodo SE MSi, Prof Dr Tri Joko Raharjo MPd, Prof Dr Soesanto MPd, dan Dr Achmad Rifa’i RC MPd.
Sukses salah satu dosen UPS Tegal itu meraih predikat sangat memuaskan saat ujian terbuka itu, dihadapan tim penguji, Dr Dra Dewi Apriani Fristianingroem MM mengungkapkan perencanaan pendidikan kecakapan hidup di lembaga kursus dan pelatihan selaras atau compatible dengan pendidikan formal.
Berdasarkan Kebutuhan
Menurut dia, perencanaan pendidikan kecakapan hidup, meliputi Penyusunan silabus, penyusunan RPP, berdasarkan kebutuhan. Selain itu, pada lembaga kursus dan pelatihan, memiliki fungsi mempersiapkan peserta untuk mendapatkan kemampuan menyelesaikan masalah, yang berhubungan dengan pengetahuan, karakter dan dunia kerja.
”Sedangkan pelaksanaannya, dituangkan dalam tiga kegiatan. Yaitu kegiatan apersepsi, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Juga menitikberatkan pada metode penyelesaian masalah berbasis projek dan kemandirian,” tandas.
Untuk evaluasinya, lanjut dia, meliputi, penilaian pengetahuan, penilaian kecakapan spesifik dan penilaian mandiri. Ketiga metode penilaian tersebut menunjukkan bahwa selain pengetahuan dan kecakapan spesifik, peserta pelatihan juga harus bisa mempergunakan ketrampilannya dalam kegiatan unjuk kerja yang bersifat mandiri. ”Ini agar pada akhirnya menjadi pekerja yang bertanggung jawab, tangguh, pantang menyerah, serta memiliki semangat spiritualisme keagamaan,” tandas dia.
(Rio Toepra/ red2)
BERITA LAINNYA