Take a fresh look at your lifestyle.

Lebaksiu Jadi Korban Zonasi Untuk Pelajar Tingkat Menengah

107

SLAWI – Sistim zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PSDB) di Kabupaten Tegal membuat para siswa yang tinggal di wilayah tanpa SMA negeri, memiliki kesempatan kecil. Jika mau belajar di SMA negeri, mereka harus menempuh jarak jauh di wilayah lainnya. Senin (25/1).

Menanggapi hal tersebut Anggota DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni mengatakan untuk mendapatkan Sekolah menengah Atas Negeri besar kemungkinan sangatlah minim, “Kami mendapatkan keluhan hampir di semua desa wilayah Kecamatan Lebaksiu. Anak-anak mereka sekolahnya di luar kecamatan itu,” katanya.

Lanjut Dia, Jeni menerima keluhan yang disampaikan saat Musrenbangdes di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Lebaksiu. Masuk zonasi PPDB bersama Kecamatan Slawi, Kecamatan Dukuhwaru, dan Kecamatan Bojong. Kecamatan terdekat yakni Slawi berpeluang kecil karena sistim zonasi mengutamakan siswa yang terdekat dengan sekolah. “Walaupun nilainya tinggi, tapi tetap kalah dengan siswa yang tinggal di Slawi. Misalkan, siswa asal Lebaksiu nilai 32 dan siswa Slawi nilai 30, yang masuk tetap siswa Slawi,” jelas politisi Partai Golkar asal Yomani, Lebaksiu itu.

Menurut dia, siswa Lebaksiu banyak yang diterima di SMA Negeri Bojong yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Jika siswa iti berasal dari Desa Pandawa, maka jaraknya lebih dari 24 kilometer dan harus naik angkot dua kali. Hal itu yang memberatkan orangtua siswa, baik dari segi biaya dan jarak yang jauh. Mayoritas siswa dan orangtua siswa menginginkan untuk belajar di sekolah negeri.

“Makanya dibutuhkan SMA negeri di Lebaksiu,” pinta pria yang akrab disapa Jeni itu.

Sementara itu, lanjut dia, SD di Kecamatan Lebaksiu juga mengeluhkan banyak mebeler yang rusak. Sekolah sangat membutuhkan mebeler untuk kegiatan belajar mengajar. Selama ini, bantuan yang diberikan hanya pembangunan ruang kelas tanpa disertai pengadaan mebeler.

“Harusnya setiap membangun ruang kelas, harus disertai mebeler,” tutupnya.

BERITA LAINNYA