Take a fresh look at your lifestyle.

Lahan Kekeringan, Petani Geruduk Kantor Pengelolaan Waduk Malahayu

167

BREBES – Puluhan petani dari Desa Kecipir, Kecamatan Losari, mendatangi Kantor Pengelola Waduk Malahayu, Kecamatan Banjarhajo, Jumat (2/8) siang. Mereka datang karena kecewa sistem giliran suplai air yang diterapkan tidak sampai ke lahan pertaniannya. Akibatnya, lahan mereka kekeringan dan tanaman terancam gagal panen.

Para petani yang datang didampinga Kepala Desa (Kades) mereka itu, ditemui seorang petugas di Kantor Pengelolaan Waduk Malahayu. Kartadi (56), seorang petani yang datang ke Kantor Pengelolaan Waduk Malahayu mengaku, sudah beberapa minggu terakhir lahan pertaniannya tidak ada aliran air. Sehingga ia bersama petani lain datang kesini (Kantor Pengelola Waduk Malahayu-red), untuk mempertanyakan kenapa air suplai dari waduk tidak sampai ke lahan pertanian di wilayahnya. Selain itu, untuk memastikan sistem pengairan secara giliran saat ini sudah dilaksanakans secara adil.

“Sudah seminggu lebih petani bawang di desa kami tidak mendapat jatah giliran suplai air. Ini yang menjadi alasan kami ke sini (Kantor Pengelola Waduk Malayahu-red). Kenapa sampai terjadi, kalau seperti ini kami bisa gagal panen,” ungkapnya.

Menurut dia, di desanya saat ini ada ratusan hektar lahan pertanian yang masih membutuhkan air. Lahan itu mayoritas ditanami bawang merah. Untuk itu, ia dan petani lain meminta pengelola untuk bisa mengaliri air dari Bendungan Malahayu ke lahan pertaniannya. “Tanaman bawang yang kami tanam saat ini masih berumur 30-45 hari. Ini jelas membutuhkan air. Kalau kekeringan, kami bisa gagal panen,” tandasnya.

Kamsah (46) petani lainnya menambahkan, saat ini tanaman bawang miliknya umurnya masih satu bulan lebih. Pihaknya berharap agar sistem pengairan yang telah ditetapkan pemerintah bisa dirasakan petani. Artinya, air yang digelontorkan dari waduk saat musim kemarau ini bisa ke lahan pertanian di wilayahnya. “Kami tidak masalah diterapkan sistem gilir, asalkan airnya bisa sampai ke sasaran. Lah lahan kami sudah beberapa minggu tidak mendapatkan suplai. Kalau airnya kurang, kami minta suplai dari Waduk Malahayu ditambah agar sampai ke lahan kami. Kalau seperti ini, kami akan gagal panen karena tanaman mati kekeringan,” jelasnya.

Sementara Petugas Waduk Malahayu, Ahmadilah menjelaskan, stok air yang ada di Waduk Malahayu saat ini tinggal 9,1 juta kubik lebih. Setiap hari airnya dikeluarkan untuk suplai ke lahan pertanian sebanyak tiga meter kubik per detik, dengan sistem yang sudah dijadwalkan atau giliran. “Kami sekarang menerapkan sitem buka tutup. Jadi, kita hanya menyalurkan saja untuk penambahan debit yang dikeluarkan itu bukan kewenangan kami. Tapi, kami akan sampaikan ke UPTD terkait keluhan petani ini,” jelasnya.

(Setiawan/ Red2)

BERITA LAINNYA